Mengenal Babad Cijulang: Ritual Sakral di Balik Pelestarian Manuskrip Kuno Pangandaran
PANGANDARAN – Di tengah modernitas Kabupaten Pangandaran yang dikenal dengan keindahan pantainya, tersimpan sebuah harta karun literasi kuno yang masih dijaga ketat oleh masyarakat adatnya. Manuskrip tersebut dikenal dengan nama Babad Cijulang atau Sajarah Purwaning Jagat.
Bukan sekadar tumpukan kertas usang, manuskrip ini merupakan kompas spiritual dan historis bagi warga Cijulang. Melalui program Akuisisi Pengetahuan Lokal 2024 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tabir makna di balik ritual pelestarian naskah ini mulai terungkap ke publik.
Warisan Abad ke-18 dalam Aksara Arab Pegon
Naskah Babad Cijulang bukanlah naskah sembarangan. Menurut Dr. Erik Krisna Yudha dari Lembaga Adat Pangandaran, naskah ini ditulis sekitar abad ke-18 oleh Eyang Narauncal.
”Awalnya ini adalah cerita tutur yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Naskah ini menggunakan aksara Arab Pegon dengan perpaduan bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sunda,” ujar Erik dalam dokumentasi tersebut.
Secara garis besar, Babad Cijulang terbagi menjadi tiga fase penting yang disebut sebagai “Tiga Pasal”:
- Sajarah Ageng: Mengisahkan asal-usul penciptaan alam semesta dan silsilah keturunan Nabi Adam AS hingga Ratu Galuh.
- Sajarah Alit: Catatan perjalanan para leluhur (karuhun) di wilayah Cijulang. Bagian ini juga menjelaskan asal-usul penamaan tempat atau cacandran di Pangandaran.
- Sajarah Hantiga: Bagian unik yang membahas silsilah bangsa “siluman” dan entitas gaib yang dipercaya menjaga tanah Jawa.

Ritual Pembacaan: Antara Tradisi dan Syukur
Pelestarian Babad Cijulang tidak dilakukan dengan menyimpannya di museum kedap udara, melainkan melalui ritual pembacaan yang hidup di tengah masyarakat. Didin Mahidi S.Sn, dari Dewan Kebudayaan Daerah Pangandaran, menjelaskan bahwa naskah ini dibacakan setidaknya dua kali dalam setahun.
”Waktu utamanya adalah setiap tanggal 10 Muharram, bertepatan dengan momen hajat laut atau hajat bumi sebagai bentuk syukur,” jelas Didin. Selain itu, pembacaan juga dilakukan pada bulan Mulud (Rabiul Awal) bersamaan dengan ritual pembersihan benda pusaka.
Prosesi pembacaannya pun sangat kental dengan adab. Dimulai dengan Ijab khusus Cijulang, pembacaan mantra Rajah, hingga Amicun atau permohonan izin kepada sang pencipta dan leluhur agar pembacaan berjalan lancar.
Cucurak: Simbol Persatuan Masyarakat
Salah satu aspek paling menarik dari pelestarian naskah ini adalah sisi sosialnya. Ritual pembacaan Babad Cijulang selalu ditutup dengan doa keselamatan dan tradisi Cucurak (makan bersama).
Dalam tradisi ini, berbagai sajian makanan digelar dan dinikmati bersama oleh seluruh warga yang hadir tanpa memandang status sosial. “Semua sama rata, tidak ada yang tidak kebagian. Ini adalah sarana silaturahmi sekaligus wujud syukur nikmat kami warga Cijulang,” tambah Didin.
Upaya Melawan Lupa
Di era digital, keberadaan naskah Babad Cijulang menjadi pengingat penting bahwa identitas lokal berakar dari sejarah panjang yang harus dihormati. Melalui ritual yang terus terjaga, masyarakat Cijulang berhasil memastikan bahwa nilai-nilai adiluhung dari abad ke-18 tidak hilang ditelan zaman.
Bagi mereka, menjaga naskah berarti menjaga jati diri. Dan melalui Babad Cijulang, mereka terus membaca masa lalu untuk melangkah ke masa depan.
Sumber: Karya Audiovisual Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN 2024




