Seni Menghidupkan Rem: Mengenal Soft Living, Tren Anti-Ngoyo Penawar Burnout
Di tengah deru dunia yang menuntut kecepatan, istilah hustle culture perlahan mulai kehilangan taringnya. Ambisi untuk terus mengejar pencapaian tanpa henti kini mulai digantikan oleh narasi baru yang lebih teduh. Ucapkan selamat tinggal pada budaya “kerja lembur bagai kuda” dan selamat datang pada soft living.
Gaya hidup ini belakangan menjadi obrolan hangat, terutama di kalangan Gen Z. Bukan sekadar tren estetik di media sosial, soft living sejatinya adalah sebuah pernyataan sikap: hidup tak melulu harus selalu terburu-buru.
Bukan Menghindari Stres, Tapi Mengatur Napas
Secara sederhana, soft living adalah gaya hidup kalem dan “anti-ruwet”. Kunci utamanya terletak pada ketenangan batin, keberanian berjalan lebih santai, dan kesadaran penuh dalam memahami batasan diri.
Namun, jangan salah kaprah. Memilih soft living bukan berarti hidup Anda otomatis steril dari tekanan. Tekanan pekerjaan atau masalah hidup akan tetap ada. Pembedanya terletak pada respons stres yang lebih baik. Fokusnya adalah pada hal-hal yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk: kesadaran diri (self-awareness) dan keseimbangan.
Mengutip BuzzFeed, fenomena ini muncul sebagai reaksi balik dari para pekerja muda yang mengalami burnout akibat ritme hidup yang dianggap terlalu cepat dan ambisius. Data Gallup 2024 memperkuat keresahan ini: sebanyak 48 persen karyawan global mengaku mengalami burnout di tempat kerja. Bahkan, data lain menyebutkan 76 persen pekerja pernah merasakan kelelahan hebat setidaknya sekali dalam masa kerja mereka.
Melawan Doktrin Pencapaian
Hustle culture memaksa seseorang untuk terus mendaki demi target yang tak jarang absurd. Sebaliknya, dalam soft living, Anda tak perlu terus-menerus mengejar piala. Tidak perlu juga ada rasa bersalah saat target tak tercapai. Di sini, proses lebih dihargai daripada hasil akhir yang melelahkan. Hidup bukan lagi soal deretan angka di slip gaji besar, melainkan soal bagaimana menjalaninya tanpa harus merasa “ruwet”.
Secara historis, tren ini memiliki akar yang menarik. Bermula di Nigeria, istilah ini awalnya merupakan ekspresi anak muda setempat yang ingin hidup lebih ringan di tengah carut-marut tata kelola negara yang buruk.
Pandemi Covid-19 kemudian menjadi katalisator global. Saat dunia dipaksa melambat, banyak orang tersadar bahwa hidup tak selalu harus “ngebut”. Orang mulai belajar cara beristirahat yang benar dan menentukan batasan (boundaries). Popularitasnya kian meroket saat konten rutinitas pagi yang tenang, kegiatan menulis jurnal (journaling), hingga momen menyeduh kopi tanpa gangguan menghiasi linimasa media sosial.
Tipisnya Batas dengan Slow Living
Meski sekilas serupa, ada garis pembatas yang tegas antara soft living dan slow living. Slow living cenderung menuntut perubahan gaya hidup yang radikal dan menyeluruh. Contoh paling nyata adalah seseorang yang meninggalkan karier korporat di kota besar demi hidup tenang di pedesaan untuk menghindari hiruk-pikuk.
Sementara itu, soft living jauh lebih fleksibel. Anda tetap bisa menjadi pekerja kantoran yang harus menghadapi target kerja setiap harinya. Perbedaannya, Anda lebih tahu batasan dan hanya menerapkan prinsip “lembut” ini pada aspek-aspek tertentu, bukan merombak total seluruh aspek kehidupan layaknya slow living.
Bukan Berarti Malas
Salah kaprah yang paling sering terjadi adalah menganggap soft living sebagai kedok bagi rasa malas atau anti-kerja keras. Nyatanya, Anda tetap bisa berjuang dan mencapai target tertentu. Bedanya, Anda memberikan “kelonggaran” pada diri sendiri dan menolak untuk merasa bersalah jika kenyataan tak sesuai ekspektasi.
Berjuang bukan lagi satu-satunya jalan tunggal menuju kebahagiaan. Dengan memberikan ruang untuk perawatan diri (self-care) dan meluangkan waktu santai tanpa rasa bersalah, hidup di tengah dunia yang serba terburu-buru tak lagi terasa seperti beban yang menyesakkan. Sebab, pada akhirnya, hidup adalah tentang maraton panjang, bukan sprint yang menghabiskan seluruh cadangan oksigen di kilometer pertama.



