PANGANDARAN – Di sebuah ruang tunggu yang biasanya riuh dengan keluhan sakit ringan, suasana pagi itu terasa berbeda. Puluhan warga duduk tegak, mata mereka terpaku pada layar besar di depan. Bukan antrean obat yang mereka tunggu, melainkan sebuah “senjata” baru untuk menghadapi musuh kecil yang mematikan: nyamuk Aedes aegypti.

​Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran menggelar sosialisasi intensif bertajuk “Tanda Bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD)”. Langkah ini diambil sebagai respons atas tren kasus DBD yang masih menjadi hantu menakutkan di wilayah Jawa Barat, tak terkecuali di kabupaten pariwisata ini.

Anatomi Bahaya di Balik Demam

​dr. Clarisa Vernia Setiawan, dokter umum RSUD Pandega, berdiri di depan warga dengan nada bicara yang tegas namun tenang. Ia membedah anatomi penyakit yang sering kali dianggap remeh pada fase awalnya. “DBD bukan sekadar demam biasa. Ada fase kritis yang menipu,” ujarnya sembari menunjuk slide presentasi.

​Menurut dr. Clarisa, banyak pasien datang dalam kondisi terlambat karena keluarga mengira kondisi membaik saat panas tubuh turun. Padahal, itulah fase di mana kebocoran plasma darah terjadi. “Jangan terkecoh saat demam turun di hari keempat hingga keenam. Jika disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, hingga mimisan, itu adalah alarm merah,” tambahnya.

​Data nasional menunjukkan bahwa Jawa Barat secara konsisten menempati posisi atas dalam peta sebaran kasus DBD. Pada tahun 2024 saja, angka kasus di provinsi ini sempat menyentuh angka puluhan ribu dengan tingkat fatalitas yang mencemaskan. Di Pangandaran, karakteristik wilayah pesisir dengan banyak genangan air alami maupun buatan menjadi surga bagi perkembangbiakan nyamuk.

Gugatan Terhadap Kelalaian: Lebih dari Sekadar 3M

​Tempo mencatat, edukasi kesehatan masyarakat selama ini sering kali hanya menyentuh permukaan. RSUD Pandega mencoba mendobrak kemonotonan itu dengan memperkenalkan strategi 3M Plus yang lebih komprehensif.

​Bukan lagi sekadar Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang, unsur “Plus” menjadi kunci:

  • Larvasida: Pemberian bubuk abate pada penampungan air yang sulit dikuras.
  • Ikan Pemakan Jentik: Solusi biologis yang ramah lingkungan.
  • Perbaikan Sanitasi: Memastikan talang air dan saluran pembuangan tidak tersumbat.
  • Tanaman Pengusir Nyamuk: Memanfaatkan alam seperti lavender atau serai di pekarangan rumah.

​”Nyamuk ini pemilih. Ia suka air bersih yang tenang, bukan air got yang kotor. Jadi, dispenser, tatakan pot bunga, hingga ban bekas adalah hotel bintang lima bagi mereka,” seloroh dr. Clarisa yang disambut tawa kecut para hadirin.

Suara dari Akar Rumput

​Sesi tanya jawab menjadi panggung bagi kekhawatiran warga. Pak Udin, warga asal Cijulang, mengangkat mikrofon dengan tangan sedikit gemetar. Ia bertanya tentang ciri fisik nyamuk yang paling kasat mata. Clarisa menjelaskan dengan detail visual: tubuh hitam pekat dengan garis-garis putih perak di kaki dan tubuhnya—sosok yang mungil namun membawa virus dengue yang destruktif.

​Lain lagi dengan Bu Deni dari Parigi. Ia berbagi pengalaman pahit pernah terserang DBD dan bertanya apakah serangan kedua bisa lebih parah. Jawaban medisnya cukup getir: ya, infeksi berulang dengan serotipe virus yang berbeda sering kali memicu komplikasi yang lebih fatal, seperti Dengue Shock Syndrome (DSS).

Menagih Komitmen Bersama

​Direktur RSUD Pandega melalui tim promosinya menegaskan bahwa rumah sakit bukan hanya tempat mengobati, tapi juga benteng pertahanan pertama dalam hal pencegahan. Sosialisasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menekan angka kematian yang terus mengintai.

​Pangandaran, dengan segala pesona wisatanya, tidak boleh kalah oleh serangga berukuran milimeter. Diperlukan lebih dari sekadar sosialisasi di ruang ber-AC; diperlukan kesadaran kolektif di setiap dapur dan halaman rumah warga. Karena pada akhirnya, kesehatan masyarakat bukan hanya tanggung jawab dokter berbaju putih, melainkan setiap tangan yang bersedia menutup rapat bak mandinya.