Anies: Krisis Iklim di Depan Mata, Ekspor Pasir Laut Malah Dibuka

Koalisi Perubahan untuk Persatuan Calon presiden (bacapres) Anies Baswedan mengungkapkan pemikirannya tentang krisis iklim yang sedang terjadi di Indonesia dalam kolom bertajuk “Indonesia Darurat Krisis Iklim”.

Anies membuka tulisan itu dengan membahas soal ketidakpastian penyelesaian masalah abrasi laut yang menimpa warga pesisir Demak, Jawa Tengah. Kondisi yang mengharuskan mereka membeli air bersih dengan harga tinggi dan menjual tanah dengan harga sangat murah.

“Seperti air laut yang menggenangi rumahmu setiap malam, harapanmu seringkali tenggelam dalam ketidakpastian,” tulisnya dikutip Medcom, Sabtu (17/6).

Ia menjelaskan, lebih dari 80 pulau di Indonesia terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Anies menganggap hal itu sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara.

“Ini mengancam kedaulatan negara karena konsep kedaulatan kita diukur dari pulau terluar yang berbatasan dengan negara lain,” lanjutnya.

Meski persoalan krisis iklim sudah di depan mata, Anyes menyayangkan sikap pemerintah yang kurang tanggap. Menurutnya, kebijakan yang diambil otoritas saat ini justru bertolak belakang dengan yang seharusnya.

Baca juga:  [HOAKS atau FAKTA]: Jadi Presiden, Anies Bakal Batalkan Pembangunan Ibu Kota Baru

Dalam hal ini, Anies menyinggung kebijakan pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kembali mengizinkan ekspor pasir dari laut melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut.

“Ketika pulau-pulau terluar rawan karam dan kawasan pesisir terancam abrasi, kebijakan yang ditempuh justru sebaliknya, yakni mengizinkan ekspor pasir dari laut. Target yang tinggi itu ternyata tidak sejalan dengan kebijakan yang penuh inkonsistensi,” ujarnya.

Melalui tulisannya, Anies juga menegaskan bahwa manusia adalah penyebab utama krisis iklim. Untuk itu interaksi antara manusia dengan alam harus dikelola dengan baik.