Rupanya Ini Cara Ferdinand Marcos Jr. untuk Menang Pilpres Filipina
Filipina masih merawat luka yang ditorehkan kekuasaan diktator Ferdinand Marcos. Dia mencengkeram erat pengadilan, sektor bisnis, hingga media massa saat masih menjadi orang nomor satu negara itu.
Rezim Marcos menjarah, melecehkan, dan memutilasi puluhan ribu penentangnya. Puluhan tahun kemudian, bayang mengerikan itu perlahan kembali menjulang.
Pemungutan suara pada Senin (9/5/2022) menyambut Ferdinand Marcos Jr. alias Bongbong, yakni putra Ferdinand Marcos Sr. Menggaet Sara Duterte Carpio, dia memimpin jajak pendapat pada pemilu tahun ini.
Keunggulan Bongbong di jajak pendapat direngkuh saat rezim sang ayah masih belum bisa mempertanggungjawabkan dana sekitar USD 10 miliar (setara Rp 144 triliun). Bongbong punya jejak hitam. Dia pernah dijatuhi hukuman akibat menggelapkan pajak pada 1995.
Antek-antek Marcos Jr. pun tidak ada bedanya. Mereka adalah segerombolan kroni yang tidak bisa berkata ‘tidak’, tak sabar mencicipi kekuasaan pula.
Para kritikus lantas tercengang menyaksikannya kian mendekati tampuk kekuasaan. Mereka khawatir bila Marcos Jr. terpilih pada Mei mendatang, dia mungkin meneruskan peninggalan ayahnya sejak 1986.
Marcos Jr, yang makin dekat dengan kursi orang nomor satu memang tidak dengan mudah merengkuh itu. Dia punya berbagai cara untuk mencapai tujuannya tersebut.
Caranya pun tak semuanya halal. Dia kerap menggunakan cara-cara picik demi mendapat dukungan menuju kursi orang nomor satu. Apa saja caranya?
Manipulasi Media Sosial
Konsumsi media sosial di Filipina melampaui rata-rata. Alhasil, platform-platform pun tidak bisa berbuat banyak dalam membendung disinformasi. Bongbong memahami celah ini dan memanfaatkannya.
Mantan karyawan perusahaan politik Inggris, Brittany Kaiser, mengungkap bahwa Bongbong mendekati firma itu untuk merombak citra keluarganya di media sosial.
Tim kampanye Macros Jr. membantah tuduhan itu mentah-mentah. Namun, disinformasi yang menguntungkannya kian berkembang biak.
Laman-laman pendukung Marcos menulis ulang sejarah klan politik itu. Mereka menyebarkan kekeliruan perihal kediktatoran hingga putusan pengadilan atas pencurian miliaran dolar dari kas negara.
Mereka mengusung tema umum, yakni bahwa pemerintahan tirani Marcos sebenarnya adalah ‘periode emas’ bagi Filipina. Nyatanya, rezim yang kejam dan korup mendorong ekonomi negara itu ke ambang kemiskinan sebab dicekik utang asing.
Salah satu laman bahkan berpura-pura menjadi kantor media sah dengan nama DU30 MEDIA Network. Pihaknya mengeklaim, Filipina adalah negara terkaya kedua selama rezim Marcos. Unggahan itu dibagikan hingga 300 kali. Padahal, negara itu mendekam dalam resesi yang dalam pada 1985.
Mereka juga meremehkan pelanggaran hak asasi manusia selama pemerintahan Marcos. Amnesty International memperkirakan, pasukan keamanannya membunuh dan menyiksa sekitar 70.000 orang.
Marcos lalu menuduh, kelompok hak asasi itu mengandalkan desas-desus dalam menyusun laporan. Menurut Marcos, badan tersebut bahkan tidak pernah singgah di Filipina.
Amnesty International telah mengunjungi negara itu setidaknya dua kali selama kepresidenan Marcos. Namun, unggahan yang mengutip kekeliruan itu dibagikan hingga lebih dari 3.000 kali.
Pendukung Bongbong tidak hanya memanipulasi narasi. Mereka juga menernakkan akun-akun anonim yang menyerang jurnalis dan orang-orang yang mengungkap kebenaran.
Facebook pun telah mengidentifikasi lebih dari 150 operasi informasi sejak 2017. Sejumlah operasi rahasia itu berasal dari jaringan di Filipina.
Melek Teknologi, Buta Sejarah
Pakar politik melempar koin untuk memprediksi di mana suara blok pemuda akan jatuh. Awal tahun ini, dukungan anak muda tersebut mulai mengalir di sekitar satu calon, yakni Marcos Jr.
Survei oleh Pulse Asia pada Februari 2022 menunjukan, tujuh dari sepuluh kelompok pemilih termuda di negara itu memilih Bongbong. Generazi Z atau Gen Z merupakan kelompok usia dengan peringkat preferensi tertinggi terhadap putra diktator itu.
Hingga 71 persen orang Filipina berusia 18 hingga 24 tahun menginginkannya menjadi presiden berikutnya.
Sekitar 64 persen dari populasi termuda selanjutnya, yakni antara 25 hingga 34 tahun serta 35 hingga 44 tahun, juga memilih Bongbong. Sementara itu, pemilih berusia 65 tahun ke atas memiliki kemungkinan terkecil untuk memilihnya.
Perbedaan tersebut dikatakan lantaran perpecahan generasi. Pemilih muda adalah generasi yang tidak pernah mengalami kediktatoran Ferdinand Marcos. Kaum muda tidak mengenal kekerasan, korupsi, dan ketidakstabilan rezim sang diktator.
Sistem pendidikan Filipina berbagi kesalahan perihal ketidaksadaran tersebut. Sekolah-sekolah dinilai tidak sungguh mendidik para pemilih muda tentang darurat militer Marcos.
Generasi muda juga merupakan populasi yang paling mahir menggunakan teknologi. Akibatnya, mereka juga rentan tenggelam dalam platform media sosial.
Kampanye Marcos Jr. menyasar target pemilih muda tersebut dengan cerdik. Propaganda daring dan jaringan disinformasi telah meningkatkan citra keluarga Marcos di tahun-tahun menjelang pemilihan presiden Marcos Jr. secara sistematis.
Konektivitas
Usia memang memprediksi dukungan untuk Bongbong, tetapi dibandingkan dengan ikatan regional atau afiliasi politik, usia adalah faktor yang jauh lebih lemah. Salah satu faktor terkuat dalam pemilu kali ini adalah daerah asal responden survei yang sama dengan calon tertentu. Namun, koneksi berkontribusi lebih jauh lagi.
Klan politik negara itu mengerahkan dukungan mereka kepada Bongbong. Kubu Marcos Jr. sendiri mengeklaim, 73 dari 81 gubernur negara itu mendukung mereka.
Sebagaimana Bongbong, hingga 80 persen gubernur di Filipina berasal dari keluarga politik, dan mereka telah mendukungnya dari belakang.
Keluarga politik regional seperti Singsons dari Ilocos Sur, Mambas dan Enriles dari Cagayan, serta klan Dy dan Albano dari Isabela telah menunjukkan dukungan mereka. Klan-klan politik tersebut berasal dari Luzon Utara.
Dukungan terhadap Bongbong juga merambah ke Luzon Tengah dengan uluran tangan dari klan Macapagal-Arroyo dan Pineda. Di Luzon Selatan, keluarga Revilla dan Remulla dari Cavite turut berjanji akan menjadikan provinsi itu sebagai bailiwick pasangan tersebut.
Sokongan politik bahkan datang dari kandang lawan Bongbong, Wakil Presiden Filipina Leni Robredo, di Bicol. Gubernur Masbate dan Camarines Norte malah mendukung kepresidenan Bongbong ketimbang Robredo.
Loyalitas
Warisan lain yang diserahkan kepada Bongbong ialah loyalitas pendukung dinasti keluarganya yang tak hanya datang dari pejabat pertahana, namun juga dari kaum sipil. Salah satu pendukung setia itu ialah pria berusia 71 tahun asal Manila, Jesus Bautista.
Bautista dulunya biasa mengais-ngais di gunung sampah yang disebut ‘Gunung Smokey’. Pada 1983, dia ditawari pekerjaan dengan dana pensiun sebagai petugas lalu lintas kota. Saat itu, istri Ferdinand Marcos, Imelda Marcos, diangkat sebagai Gubernur Metro Manila.
Penunjukkan jabatan secara tidak demokratis itu menghadiahinya dengan loyalitas dari sejumlah warga. Bautista mengatakan, dia berutang budi kepada Imelda lantaran telah diberikan pekerjaan yang didanai publik.
Bautista mengetahui kekayaan sebenarnya keluarga itu. Lemari pakaian Imelda saja memiliki ratusan gaun desainer tak pernah terpakai dengan label yang masih menempel. Imelda juga diperkirakan menjarah hingga USD 10 miliar dari dana publik.
Meski begitu, Bautista akan tetap memilih putranya.
“Saya tidak pernah melihat korupsi,” ucap Bautista sambil tersenyum lebar.
“Itu hanya desas-desus. Saya pikir musuh mereka menodai nama mereka. Benar?” lanjutnya.
Dukungan Duterte
Pasangan calon Bongbong dalam pemilu itu adalah Sara Duterte Carpio. Wanita berusia 43 tahun tersebut merupakan putri dari presiden pertahana, Rodrigo Duterte. Konstitusi Filipina mencegah figur kontroversial itu mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.
Pada 2016, Duterte melancarkan ‘perang melawan narkoba’ yang mengakibatkan ribuan pengedar dan pengguna dieksekusi tanpa proses peradilan apa pun. Pendekatan yang keras membuatnya menjadi tokoh penuh kontroversi, namun dia juga sangat populer.
Putri Duterte tampaknya mewarisi watak tersebut. Sebuah komunikasi dari Kedutaan AS di Manila pada 2009 yang bocor menggambarkan Carpio sebagai seorang individu yang berpikiran keras dan seperti ayahnya, sulit untuk diajak bergaul.
Pendapat itu terbukti pada 2011 ketika Carpio berulang kali meninju seorang sheriff pengadilan sebab tidak mematuhi perintah untuk menghancurkan daerah kumuh. Meski demikian, bukan kepribadian mereka yang mengantarkan pasangan Marcos Jr. dan Caprio menjadi calon unggulan.
Sebagian pemilih melihat lawan Bongbong sebagai boneka negara asing. Robredo disebut menirukan kebijakan luar negeri AS. Mereka lalu mengaitkan Robredo dengan kebangkitan pengaruh Washington di Manila.
Pemerintahan Robredo yang lebih pro-AS dianggap akan membahayakan ikatan dengan China. Duterte telah mendorong Filipina meraup keuntungan dengan menjalin hubungan dengan Beijing selama masa jabatannya.
Masyarakat lantas berasumsi, Bongbong akan melanjutkan kebijakan Duterte sementara Robredo hanya akan menghancurkannya.
Duterte tidak mendukung satu pun calon presiden hingga kini. Namun, dia mungkin akan memberikan dukungannya kepada Marcos Jr. Langkah itu tentu akan mengubah arus politik di masa mendatang.
Hindari Wartawan
Bongbong menolak berpartisipasi dalam debat televisi maupun sesi wawancara media independen. Dia beralasan, forum-forum itu memiliki bias sehingga pasti memojokkannya. Bongbong juga mengabaikan pertanyaan para wartawan di rapat umum.
Marcos Jr. mengalihkan pandangan dari persoalan substansial. Dia justru menggelar demonstrasi besar-besaran dan berlindung di antara para pendukungnya yang berbaju merah, sehingga wartawan sulit meraihnya.
Bongbong membagikan barang gratis kepada peserta mulai dari gelang, kaus, hingga kopi. Wajah Marcos Jr. yang tengah menyeringai dan tulisan ‘sekutu Anda saat bangkit’ terlukis pada buah tangan itu.
Kampanye Bongbong dimeriahkan oleh musik populer, panggung komedi, dan tarian. Rentetan politisi pro-Marcos lalu akan menyampaikan monolog pendek dan jenaka. Tak ada satu pun dari mereka yang membahas kebijakan secara rinci.
Marcos Jr. lantas ditanya bila dia sungguh bisa menjadi presiden yang baik bila dia bahkan enggan melakukan wawancara serius. Alih-alih menegaskan rencananya, Bongbong hanya tertawa.



