Mewujudkan Pangandaran Sebagai Kabupaten Pariwisata Mendunia

Oleh: Dr. Ine Maulina (*

Pariwisata merupakan suatu aspek yang penting bagi suatu daerah, sektor pariwisata dapat menjadi tulang punggung terhadap pendapatan asli daerah. Seperti obyek wisata Pantai Pangandaran sebagai penghasil pendapatan daerah terbesar bagi Kabupaten Pangandaran. Pengembangan Pariwisata Pantai Pangandaran merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan stakeholders dengan tujuan utamanya adalah income atau pendapatan daerah.

Kabupaten Pangandaran memiliki lambang atau ikon bernama Tugu Marlin atau biasa disebut dengan Bundaran Marlin yang menjadi ciri khas dari Kabupaten ini. Lokasinya berada di tengah – tengah jalur dimana semua kendaraan baik mobil ataupun sepeda motor melewati tugu ini dari segala arah. Tepatnya ketika pertama masuk atau keluar dari Pangandaran dan berada di depan Masjid Besar Al- Istiqomah Pangandaran.

Keberadaan tugu ini merupakan gambaran masyarakat Pangandaran dengan karakter kelincahan seperti ikan blue marlin lincah, senang melompat ke udara, atraktif serta mandiri di habitat aslinya. menggambarkan tujuan awal Kabupaten Pangandaran dengan usia yang masih terbilang muda. Filosofi tugu ini sebagai ikon Pangandaran adalah bahwa ikan berjenis Blue Marlin selain memiliki karakter yang lincah juga mandiri. Mandiri dimaknai dalam bentuk pembangunan yang tidak bergantung pada wilayah induk yang terdahulu yaitu Kabupaten Ciamis.

Baca juga:  Jelang Dibukanya Destinasi Wisata, Disparbud Pangandaran Gencar Sosialisasi Regulasi

Dengan semboyan “Jaya Karsa Makarya Praja” yang memiliki arti Jaya adalah kemenangan atau unggulan, Karsa adalah ide atau daya cipta yang selalu unggul dan sukses dalam pembangunan. Makarya adalah mendirikan, membangun, mengerjakan pekerjaan dengan hasil yang sangat indah dan megah, Praja adalah bahwa pembangunan Kabupaten Pangandaran ini lahir dari ide – ide dan aspirasi dari masyarakat Pangandaran itu sendiri. Jika disimpulkan berarti “Unggul dalam pemikiran demi menciptakan pemerintahan yang kuat”.

Kabupaten Pangandaran memiliki potensi yang paling besar di bidang pariwisata baik wisata bahari maupun wisata sungai. Diantaranya terdapat beberapa obyek wisata yang menjadi favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara, yaitu: Pantai Pangandaran, Taman Wisata Alam (Cagar Alam Pananjung), pantai Batu Hiu, Pantai Batu Karas, Pantai Madasari, Pantai Karapyak, dan beberapa wisata sungai yaitu: Cukang Taneuh (Green Canyon), Citumang, Santirah dan kini ada Wonder Hill Jojogan serta masih terdapat banyak destinasi wisata lainnya. Bukan suatu hal yang mustahil jika Kabupaten Pangandaran mempunyai misi sebagai “Kabupaten Pangandaran pada tahun 2025 menjadi kabupaten pariwisata yang mendunia, tempat tinggal yang aman dan nyaman berlandaskan norma agama”.

Baca juga:  Ini Pesan Mendalam Wabup Adang Hadari di Hari Pahlawan

Dibukanya kembali objek pariwisata pada saat kondisi pasca pandemi haruslah menempatkan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat sebagai sasaran utamanya.

Menurut Hausler dalam Sunaryo (2013), Community Based Tourism (CBT) merupakan suatu pendekatan dalam pembangunan pariwisata yang menekankan pada masyarakat lokal, baik yang terlibat langsung maupun tidak dalam industri pariwisata, dalam bentuk pemberian akses pada manajemen dan sistem pembangunan kepariwisataan yanng berujung pada pemberdayaan politis melalui kehidupan yang lebih demokratis, termasuk dalam pembagian keuntungan dari kegiatan kepariwisataan secara lebih adil bagi masyarakat lokal.

Sedangkan menurut Murphy dalam Sunaryo (2013) menyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan tidak bisa lepas dari sumber daya dan keunikan komunitas lokal, baik berupa elemen fisik maupun non fisik (tradisi dan budaya), yang merupakan unsur penggerak utama kegiatan wisata itu sendiri sehingga semestinya kepariwisataan harus dipandang sebagai “ Kegiatan yang berbasis pada komunitas setempat”.

Adanya Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata (KOMPEPAR) KOMPEPAR yang dibentuk berdasarkan ketentuan dan kebijakan pemerintah, dalam pengelolaannya memanfaatkan potensi sumber saya manusia yang ada dikawasan destinasi yang bersangkutan. Dengan anggapan bahwa masyarakat yang berada di kawasan tersebut lebih mengerti dan mengetahui permasalahan yang terjadi di kawasan tersebut. Serta dapat lebih mengetahui potensi yang ada di kawasan tersebut serta aspek-aspek lainnya seperti aspek sosial, potensi alam lingkungan hidup, sejarah serta budaya dan adat istiadat yang ada di daerahnya.

Baca juga:  Uu : Kembangkan Pariwisata, Pemprov Beri Bantuan Rp100 Miliar ke Pangandaran

Kekuatan dan kelemahan dari obyek-obyek wisata tersebut juga menciptakan peluang serta ancaman tersendiri yaitu diantaranya obyek wisata tersebut menjadi ikon pariwisata selain itu dengan kekuatan yang ada obyek wisata tersebut berpeluang menjadi tempat wisata berskala nasional bahkan dunia namun begitu terdapat pula ancaman salah satunya banyak pesaing-pesaing pariwisata dengan fasilitas yang baik tentu menjadi ancaman berarti bagi pariwisata tersebut untuk dapat bersaing dengan pariwisata di daerah-daerah lain.

Dengan kata lain, dengan kekuatan yang ada maka pemerintah harus mampu mempertahankan dan menggali potensi sebagai bentuk pengelolaan pariwisata.
Dengan demikian CBT sebagai pendekatan pembangunan pariwisata dengan menempatkan masyarakat atau komunitas sebagai pelaku utama dengan melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan, sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan bagi masyarakat.

Referensi:
Sunaryo, Bambang. 2013. Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta: Gava Media
https://tourism.pangandarankab.go.id/artikel/blue-marlin-ikan-yang-menjadi-ikon-kabupaten-pangandaran

*)Penulis :

Dr. Ine Maulina

Researcher and Lecturer in Fisheries Socio-Economic, Faculty of Fisheries and Marine Science (FPIK) Universitas Padjadjaran