Menakar Peluang Idi Kurniadi, Panglima Anggaran yang Dinilai Layak Mengisi Kursi Sekda Pangandaran
PANGANDARAN, SPC – Masa transisi kepemimpinan birokrasi di Kabupaten Pangandaran pasca-era Sekretaris Daerah (Sekda) Kusdiana kini menjadi sorotan publik. Bukan sekadar pergantian jabatan rutin, penunjukan Sekda baru dianggap sebagai momentum krusial bagi stabilitas fiskal dan pembangunan daerah di masa depan.
Salah satu nama yang menguat dalam bursa calon Sekda adalah Idi Kurniadi, S.IP., MM., yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Pangandaran. Munculnya nama Idi bukan tanpa alasan. Berdasarkan aspirasi dari sejumlah tokoh masyarakat yang mengamati dinamika birokrasi lokal, ada tiga faktor utama yang membuat sosoknya dinilai layak memimpin sekretariat daerah.
1. Kedekatan Sosio-Kultural sebagai Putra Daerah
Faktor pertama yang menjadi sorotan adalah status Idi sebagai putra daerah asli Pangandaran. Dalam konteks tata kelola pemerintahan daerah, latar belakang ini bukan sekadar urusan sentimen kedaerahan.
Seorang Sekda yang memahami “ruh” dan karakteristik masyarakatnya diyakini memiliki modal sosial yang lebih kuat. Hal ini penting untuk menjembatani komunikasi antara kebijakan pemerintah (elit politik) dengan kebutuhan masyarakat di akar rumput. Dengan memahami peta sosial secara mendalam, proses pengambilan kebijakan diharapkan bisa lebih presisi dan minim gesekan.
2. Penguasaan Teknis Anggaran (APBD)
Faktor kedua, yang dinilai paling mendesak, adalah kompetensi teknokratis. Sebagai Kepala BKAD, Idi Kurniadi dianggap sebagai “panglima” yang memahami seluk-beluk keuangan daerah secara detail.
Di tengah tantangan ekonomi nasional yang berdampak pada fluktuasi dana transfer pusat, Pangandaran membutuhkan sosok Sekda yang berfungsi sebagai arsitek keuangan. Pengalaman Idi dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) selama ini dianggap sebagai jaminan bahwa masa adaptasi jabatan bisa dipangkas. Pangandaran memerlukan sosok yang langsung bisa bekerja menjaga arus kas daerah tetap sehat sejak hari pertama menjabat.
3. Integritas dan Loyalitas “Tegak Lurus”
Faktor ketiga adalah integritas birokrasi. Dalam diskursus pemerintahan, loyalitas seorang Sekda haruslah “tegak lurus” terhadap regulasi dan visi pembangunan pimpinan daerah.
Para tokoh masyarakat menilai Idi sebagai figur yang stabil dan mampu menjaga netralitas birokrasi. Karakter ini sangat dibutuhkan untuk memastikan mesin pemerintahan tetap berjalan sinkron dan tidak terjebak dalam kepentingan faksionalisme yang bisa menghambat pelayanan publik.
”Sekda adalah jantung birokrasi. Jika jantungnya tidak selaras dengan ritme daerah, maka seluruh organ pemerintahan akan lumpuh,” tulis salah satu poin refleksi terhadap pentingnya posisi ini.
Menatap Masa Depan Pangandaran
Sebagai daerah yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata kelas dunia, Pangandaran memerlukan manajemen pemerintahan yang sangat presisi. Kombinasi antara kedekatan emosional sebagai putra daerah, kematangan dalam manajemen anggaran, dan stabilitas karakter menjadikan Idi Kurniadi sebagai kandidat yang patut diperhitungkan secara serius.
Kini, keputusan akhir berada di tangan tim panitia seleksi (Pansel) dan pimpinan daerah. Apakah Pangandaran akan memilih keberlanjutan dengan sosok yang sudah teruji di internal, atau mengambil jalur lain? Jika melihat rekam jejak dan kebutuhan daerah saat ini, sosok yang memahami “dapur” keuangan seperti Idi Kurniadi tampaknya lebih dari sekadar calon, melainkan sebuah kebutuhan strategis.
