Indonesia gagas kesetaraan “global south” di tata kelola Kecerdasan Buatan global
SEPUTARPANGANDARAN.COM, Ibukota Indonesia – Wakil Menteri Komunikasi dan juga Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria menyatakan Indonesia pada forum etika Kecerdasan Buatan global menggagas agar kepentingan negara-negara Selatan atau dikenal juga dengan sebutan global south dapat diperhitungkan pada perumusan tata kelola kecerdasan artifisial (AI) global.
Dalam forum yang diadakan oleh Artificial Intelligence Advisory Body, badan penasihat Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi tata kelola AI, Indonesia berharap agar Badan Penasihat Teknologi AI dapat memperhatikan kesetaraan bagi seluruh negara pada dunia.
“Kami memberikan sebagian catatan, bahwa Tata Kelola Artificial Intelligence Global seyogyanya memperhatikan kepentingan global south (negara-negara Selatan)," kata Nezar sebagaimana disitir pada siaran pers kementerian di dalam Jakarta, Senin.
Ia menyampaikan instruksi yang mana sejenis di sesi Ministers’ Closed Consultations on the Interim Report of the UNSG’s High Level Advisory Body on AI yang dimaksud berlangsung di area Brdo Congress Center, Slovenia, pada Hari Minggu (4/2) waktu setempat.
Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa negara-negara Selatan yang mana merupakan negara mengalami perkembangan berada di tempat Asia, Afrika, dan juga Pasifik Selatan terus bertumbuh khususnya pada hal pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence di area berbagai sektor juga keberadaan masyarakat.
Dengan fakta tersebut, agar negara-negara itu dapat berkontribusi selayaknya negara progresif terkait pengembangan Kecerdasan Buatan global maka diperlukan pendekatan yang dimaksud menekankan kesetaraan antar negara.
"Ini membutuhkan satu pendekatan yang tersebut lebih lanjut adil, bahwa Tata Kelola Teknologi AI Global nantinya memperhatikan bangsa-bangsa pada bagian selatan atau kita sebut dengan Global South agar tata kelola itu menempatkan kesetaraan," kata Nezar.
Mencermati optimisme yang tinggi dari global south yang dimaksud sedang memajukan teknologi Kecerdasan Buatan itu, maka dari itu otoritas Indonesia menyatakan bahwa akses terhadap teknologi dengan membuka potensi transaksi pengetahuan juga teknologi antar negara penting dilakukan.
Indonesia berharap agar negara-negara Selatan tidak ada hanya sekali dilihat sebagai bursa tapi juga dapat melibatkan sebagai negara yang dimaksud mampu mencetak inovator terkait AI.
“Jangan cuma dijadikan pasar, sehingga ada kesetaraan pada pengelolaan Artificial Intelligence Internasional. Maka yang mana kami coba lakukan semacam intervensi (dalam Pertemuan Global tentang Etika AI), sebab selama diskusi kami juga mengamati cukup baik tanggapan dari berbagai negara termasuk Amerika serta China yang mana dua-duanya punya concern terhadap pengembangan AI," ujarnya.



