Penjual Kue Putu Ayu di Pangandaran Bertahan Saat Pandemi
PANGANDARAN – Penjual Kue Putu Ayu, Karno (57) warga Brebes, Jawa Tengah, sudah hampir 25 tahun mengadu nasib di Kabupaten Pangandaran.
Kue Putu Ayu adalah kue khas asli Indonesia dari Jawa Tengah, tetapi di Jawa Barat pun sudah sangat familiar dan cara penjualannya sangat khas dengan bunyi nyaring.
Sesuai namanya, Ayu yang dalam bahasa Jawa berarti “cantik”, memang dari sisi visual kue ini terlihat sangat cantik dan menarik.
“Saya sudah lama berjualan kue ini, dulu sebelum merantau ke Pangandaran pun di kampung berjualan yang sama,” kata Karno.

Menurutnya, kue tradisional ini memiliki daya tarik, karena selalu mampu menimbulkan rasa kangen dan nostalgia bagi sebagian orang.
“Saya berjualan di Pangandaran memang sudah sangat lama, dan tidak selalu menetap di satu titik, kalau di pantai Karpayak lagi rame baru saya muter di seputaran pantai,” ucapnya.
Saat pandemi, kata Karno, situasinya jauh berbeda omsetnya menurun drastis. Biasanya bisa mendapatkan Rp400 ribu per hari. Namun sekarang paling setengahnya.
“Biasanya membawa 6 kilogram bahan baku kue, sekarang paling banyak 4 kilo gram, itu pun kadang tidak habis,” ungkapnya, Jumat 19 Februari 2021.
“Meskipun kondisinya seperti ini, Alhamdulillah saya masih bisa bertahan tidak harus pulang ke Kampung. Yang penting masih bisa berjualan meskipun pendapatan sekarang menurun,” jelas Karno.
Di lokasi yang sama Yudi, Wisatawan lokal asal Padaherang mengatakan, Kue Putu Ayu sangat disukai sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Menurutnya, selain terjangkau harganya pembuatannya sangat unik, yaitu dikukus di dalam potongan bambu.
“Penggemarnya masih banyak baik anak-anak hingga orang dewasa, termasuk saya,” ujarnya. (Eris Riswana)



