PANGANDARAN – Kasus terdamparnya kapal tongkang bermuatan batu bara di kawasan pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mendapat perhatian serius dari parlemen. Peristiwa ini ditegaskan bukan sekadar insiden pelayaran biasa, melainkan ancaman nyata bagi kelestarian lingkungan dan ekonomi warga.

​Hal itu disampaikan oleh Anggota DPR RI, Ida Nurlaela Wiradinata, saat meninjau langsung lokasi pencemaran di kawasan pesisir Pangandaran pada Senin (29/6/2026).

​”Mengomentari tentang tumpahan muatan batu bara yang ada di perairan Pangandaran, itu bukan hanya kecelakaan pelayaran biasa,” ujar Ida Nurlaela di sela-sela peninjauannya.

​Kapal tongkang yang mengangkut sekitar 8.100 ton batu bara tersebut dilaporkan sengaja didamparkan di Pantai Sukaresik, Kecamatan Sidamulih. Dampak tumpahannya kini telah menyebar luas, termasuk ke Pantai Cibenda di Kecamatan Parigi, dan mengancam habitat penyu serta ekosistem laut yang menjadi tumpuan hidup nelayan.

​Sinar Matahari Terhalang, Produktivitas Laut Menurun

​Masuknya batu bara dalam jumlah besar ke laut menyebabkan partikel-partikel hitam menyebar mengikuti arus dan gelombang. Kondisi ini membuat air laut menjadi keruh secara ekstrem dan menghalangi sinar matahari untuk menembus ke dalam perairan.

​Akibatnya, proses fotosintesis fitoplankton dan padang lamun menjadi terganggu, sehingga produktivitas primer perairan menurun drastis.

​Selain berdampak pada kolom air, sebagian material batu bara diperkirakan akan tenggelam dan mengendap di dasar laut. Endapan ini berpotensi menutupi terumbu karang serta merusak habitat biota dasar laut seperti kerang, udang, dan ikan.

​Ancaman Racun Logam Berat

​Kekhawatiran terbesar dari insiden ini adalah kandungan kimia berbahaya di dalam batu bara. Material ini diketahui mengandung sejumlah unsur logam berat yang bersifat racun (toksik) bagi makhluk hidup, seperti:

  • ​Arsenik
  • ​Merkuri (Air Raksa)
  • ​Timbal
  • ​Kadmium
  • ​Selenium

​Jika zat-zat beracun ini terlarut dan masuk ke dalam rantai makanan (bioakumulasi), dampaknya bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Habitat penyu yang berada di sekitar pesisir Pangandaran kini berada dalam status terancam akibat ruang hidupnya yang tercemar berat.

​Nelayan Merugi, Pemerintah Didesak Investigasi

​Dampak dari pencemaran ini langsung memukul sektor perekonomian lokal. Wilayah pesisir yang dangkal, yang biasanya menjadi area tangkapan utama bagi para nelayan tradisional untuk mencari nafkah, kini tertutup jelaga hitam. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) setempat yang turut memantau situasi juga menyatakan kekhawatiran atas kerugian ekonomi yang masif bagi masyarakat pesisir.

​Merespons bencana lingkungan ini, Ida Nurlaela mendorong pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengambil langkah konkret. Diperlukan investigasi menyeluruh, pemantauan rutin terhadap kualitas air dan sedimentasi, serta kajian mendalam mengenai dampak polusi terhadap biota laut dan perikanan.

​Rencana pemulihan lingkungan (environmental remediation) harus segera disusun agar dampak jangka panjang terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.