Kiprah Ida Nurlaela di Komisi VI: Menembus Batas Birokrasi Demi Senyum Warga Difabel
PANGANDARAN – Suasana di Dusun Kawarasan, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, seketika berubah khidmat dan diselimuti rasa haru. Di tengah kerumunan warga yang hadir, suara Ida Nurlaela Wiradinata terdengar bergetar saat berbicara di depan mikrofon. Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) ini tak mampu membendung rasa keharuannya menyaksikan langsung kondisi warganya yang hidup dalam keterbatasan.
”Sangat terketuk hati saya, masih bisa ketemu dengan masyarakat di sini,” ujar Ida dengan suara tertahan, menahan air mata yang nyaris tumpah.
Kehadiran srikandi yang kini duduk di Komisi VI DPR RI tersebut bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ida turun langsung ke lapangan untuk menyerahkan bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Penerimanya adalah keluarga Ibu Ukaesih dan Ibu Titi Mulyati, dua sosok tangguh yang selama ini bertahan hidup di bawah atap yang jauh dari kata layak.
Hidup dalam Keterbatasan Fisik
Kondisi keluarga ini memang memprihatinkan dan mengetuk pintu kemanusiaan siapa saja yang melihatnya. Ibu Ukaesih kini mulai didera kepikunan akibat usia senja, sementara anaknya, Ibu Titi Mulyati, harus menjalani hari-hari dalam kegelapan karena keterbatasan fisik tidak bisa melihat.
”Karena saat ini yang kita bantu ini adalah seorang ibu yang mungkin sudah pikun, kemudian anaknya yang tidak bisa melihat,” kata Ida menjelaskan kondisi riil di lapangan. Ia menegaskan bahwa momen penuh emosi ini murni apa adanya tanpa rekayasa. “Ini tidak kita setting ya Ibu, punten. Enggak ada dalam hidup saya… saya menjadi apa pun Bu, hanya dengan keikhlasan dan ketulusan.”
Bagi Ida, pengabdian mendampingi masyarakat Kabupaten Pangandaran bukan hal baru. Sebagai istri dari Jeje Wiradinata—mantan Bupati Pangandaran yang menjabat selama dua periode—ia paham betul dinamika sosial di pelosok daerahnya. Di sela-sela kunjungannya, ia juga menyempatkan diri menengok langsung kondisi dapur dan ruang dalam rumah yang sedang diperbaiki.
Melanjutkan Perjuangan Melalui Gotong Royong
Melihat kenyataan bahwa masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan, Ida memandang aksi sosial ini sebagai bentuk keberlanjutan dari komitmen yang sudah dibangun oleh suaminya selama sepuluh tahun memimpin Pangandaran.
”Waktu dua periode artinya 10 tahun itu ternyata tidak cukup, masih banyak warga masyarakat yang butuh, yang harus kita kasih bantuan. Saya hanya meneruskan perjuangan beliau,” tuturnya, merujuk pada visi mulia untuk selalu memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
Kini, melalui semangat gotong royong dan kepedulian bersama dari berbagai pihak, tempat tinggal Ibu Ukaesih dan Ibu Titi Mulyati bertransformasi menjadi hunian yang lebih layak, aman, dan nyaman untuk ditempati.
Isak tangis pun pecah saat prosesi penyerahan bantuan secara simbolis. Sambil memeluk erat Ida Nurlaela, Ibu Titi yang memiliki keterbatasan penglihatan tak henti-hentinya memanjatkan doa dengan tulus,
“Hatur nuhun… mudah-mudahan Ibu sing sukses selalu, sing seueur rezekina, sehat selalu.”
Ida berharap, dukungan kolektif seperti ini tidak berhenti di sini. Mengingat keterbatasan fisik yang dialami keluarga tersebut, kepedulian berkelanjutan dari lingkungan sekitar sangat diperlukan agar kualitas hidup serta kesejahteraan mereka dapat terus terjaga dan meningkat.



