PANGANDARAN – Bagi para penyintas gangguan pernapasan, setiap tarikan napas adalah sebuah perjuangan yang tak jarang diwarnai kecemasan. Menyadari urgensi tersebut, RSUD Pandega Pangandaran memanfaatkan momentum Hari Asma Sedunia 2026 untuk mempertegas pesan bahwa asma bukanlah jeruji yang membatasi produktivitas.

​”Asma bukan halangan untuk tetap hidup aktif dan produktif, selama dikelola dengan baik,” tulis manajemen RSUD Pandega dalam keterangannya pekan ini. Pesan ini menjadi krusial di tengah tantangan akses layanan kesehatan daerah yang seringkali terkendala jarak dan ketersediaan spesialis.

​Tahun ini, tema yang diangkat menyoroti pentingnya akses terhadap inhaler anti-inflamasi sebagai kebutuhan mendesak. Di lapangan, persoalan asma sering kali diperburuk oleh ketidaktahuan pasien dalam mengenali pemicu—mulai dari polusi udara hingga alergen domestik—serta kepatuhan pengobatan yang rendah.

​Untuk menjawab kebutuhan diagnosis yang presisi, RSUD Pandega menyiagakan tiga dokter spesialis penyakit dalam guna memberikan konsultasi mendalam bagi warga Pangandaran dan sekitarnya. Mereka adalah dr. Erisanti Nurfarida, Sp.PD, dr. Fenandri Fadillah Fedrizal, Sp.P.D, dan dr. Dani Pernata, Sp.P.D. Jadwal pelayanan pun diatur ketat sejak Senin hingga Sabtu guna memastikan pasien kronis mendapatkan penanganan berkelanjutan.

​Langkah jemput bola melalui edukasi digital ini diharapkan mampu mengikis stigma bahwa pengidap asma harus membatasi aktivitas fisik secara ekstrem. Sebaliknya, dengan kontrol rutin dan penggunaan obat yang tepat, kualitas hidup pasien dapat terjaga optimal.

Di balik kampanye “Salam Sehat dan Bahagia” ini, terselip harapan agar tata kelola penyakit tidak menular di level daerah semakin solid, memastikan tak ada lagi warga yang harus bertaruh nyawa hanya untuk sekadar menghirup udara dengan lega.