Ratusan Petani Pangandaran Datangi Gedung DPRD Keluhkan Banyaknya Persoalan Pertanian

Ratusan petani Kabupaten Pangandaran mendatangi gedung DPRD Kabupaten Pangandaran guna berdiskusi terkait dengan persoalan-persoalan yang saat ini terjadi pada sektor pertanian.

Adapun para petani yang mendatangi gedung DPRD Pangandaran, diantaranya Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se-Kabupaten Pangandaran, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pangandaran, Asosiasi kapol, Asosiasi tembakau, pemuda tani dan perempuan tani mendatangi gedung DPRD Kabupaten Pangandaran.

Ketua Kontak Tani Andalan (KTNA) Kabupaten Pangandaran Dadang Suherman mengatakan, keberadaan KTNA adalah mitra bagi pemerintah di bidang pertanian.

Namun demikian, hingga saat ini KTNA belum menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya karena terbentur terkait anggaran.

Padahal, menurut Dadang, potensi pertanian di Kabupaten Pangandaran sangat luar biasa.

“Tapi walaupun tidak ada anggaran, tapi teman-teman petani masih tetap berjalan,” katanya.

Sementara Ayo Sahyo, Gapoktan Mekarjaya Desa Cijulang meminta kepada pemerintah untuk tidak mempersulit para petani terkait dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) apalagi sebentar lagi memasuki musim tanam.

“Kalau bisa BBM untuk petani jangan dipersulit, turunkan harganya kalau bisa,” ujarnya.

Selain itu, terkait dengan pupuk, Sahyo mengatakan para penyedia jangan membuat ribet para petani, padahal para petani sudah dibekali dengan kartu tani. Sahyo mencontohkan, seorang petani membeli pupuk di salah satu kios yang dapat menggunakan kartu tani, pada saat membeli pupuk tersebut ternyata sudah habis.

Karena kebutuhan yang mendesak, petani tersebut pasti mencari ke kios pupuk yang lain, namun karena kios pupuk lain tidak menggunakan kartu tani maka harga pupuk tersebut menjadi mahal.

“Masalah pupuk jangan dibuat ribet, kan sudah ada kartu tani,” katanya.

Sahyo mengatakan, dalam rangka swasembada pangan hendaknya para petani di Kabupaten Pangandaran diberi bantuan alat pertanian yang canggih.

“Dengan alat yang canggih maka proses pengolahan tanah menjadi cepat, kan tanam iti harus serentak tidak boleh berbeda-beda,” ujarnya.

Sahyo mengaku, saat ini petani selalu kesulitan mencari buruh tani pada saat musim panen tiba, banyak buruh tani yang saat enggan untuk memanen padi karena buruh tani sudah mendapatkan berbagai macam bantuan dari pemerintah.

“Mereka itu kan sudah dapat bantuan beras dari pemerintah, jadi mereka berfikir buat apa ke sawah kan nanti juga dikasih sma pemerintah,” katanya.

Dirinya berharap, pemerintah saat memberikan bantuan sosial sebaiknya dalam bentuk uang tunai saja.

“Saya khawatir kalau seperti ini terus, banyak petani yang tidak lagi mau menanam padi,” ujarnya.

Ahmad Susanto, perwakilan dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Pangandaran meminta adanya kebijakan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran dan juga Pertamina terhadap para petani, terutama petani tembakai terkait dengan BBM.

Menurutnya, para petani tembakau pada saat pengeolahan hasil panen memerlukan bahan bakar jenis pertalite dimana saat ini harganya naik.

“Dinas terkait setidaknya bisa mengeluarkan rekomendasi, sehingga petani bisa membeli BBM di SPBU untuk kepentingan pertanian,” katanya..

Selain itu, untuk penanganan permasalah air irigasi di Kecamatan Mangunjaya hendaknya kewenanganya diserahkan ke BBWS saja, agar pengairan sawah di Mangunjaya berjalan lancar.

“Ada sekitar 300 hektar sawah yang selalu kekeringan padahal dekat dengan Sungai Citanduy,” katanya.

Dirinya mengucapkan terimakasih kepada Ketua DPRD Kabupaten Pagandaran yang telah memfasilitasi koordinasi para petani di Kabupaten Pangandaran.