PANGANDARAN, SPC – Pesisir Pantai Timur Pangandaran, Jawa Barat, kembali menghadapi persoalan tahunan berupa serbuan sampah kiriman seiring tingginya intensitas hujan dalam sepekan terakhir. Material berupa kayu, ranting pohon, hingga potongan bambu tampak memenuhi bibir pantai dan mengganggu aktivitas pariwisata di kawasan tersebut.

​Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) kini tengah berupaya melakukan pembersihan intensif. Hal ini disebabkan volume sampah yang mendarat di pesisir melonjak drastis dibandingkan hari-hari biasanya.

​Terbawa Arus Sungai Citanduy

​Kepala DLHK Kabupaten Pangandaran, Irwansyah, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan siklus tahunan yang sulit dihindari. Menurut dia, material sampah tersebut bukan berasal dari aktivitas warga di sekitar pantai, melainkan limbah domestik dan alam yang terbawa aliran sungai besar.

​”Ini sudah menjadi langganan. Setiap musim penghujan, sepanjang pesisir pantai di wilayah Kabupaten Pangandaran diserbu oleh sampah kiriman dari Sungai Citanduy yang terbawa arus laut,” ujar Irwansyah saat dikonfirmasi, Senin (20/4/2026).

​Lonjakan volume sampah tersebut cukup signifikan bagi kapasitas pengelolaan sampah daerah. Irwansyah merinci:

  • Volume Normal: Rata-rata 6 meter kubik per hari dari kawasan wisata dan permukiman.
  • Volume Saat Ini: Mencapai 36 meter kubik per hari akibat akumulasi sampah kiriman.
  • Distribusi Dampak: Untuk saat ini, tumpukan sampah terkonsentrasi di Pantai Timur, sementara Pantai Barat terpantau relatif aman.

​Mengganggu Sektor Wisata

​Kehadiran sampah ini berdampak langsung pada para pelaku usaha wisata air (water sport). Tumpukan material kayu yang berserakan tidak hanya merusak estetika, tetapi juga berisiko membahayakan keselamatan wisatawan.

​Dani, salah satu penyedia jasa wahana banana boat di Pantai Timur, menyebutkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung sejak pekan lalu. Ia mengaku harus turun tangan bersama rekan-rekannya untuk membantu proses pembersihan agar tetap bisa beroperasi.

​”Sampah ini sangat mengganggu operasional wahana kami. Selain menghalangi jalur masuk kapal ke laut, material kayu yang tajam juga bisa membahayakan pengunjung,” ungkap Dani.

​Saat ini, petugas kebersihan terus disiagakan untuk mengangkut sampah-sampah tersebut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Upaya ini diharapkan dapat segera memulihkan wajah pesisir Pantai Timur sehingga kenyamanan wisatawan kembali terjaga di tengah musim penghujan yang masih berlangsung.