PANGANDARAN – Deru ombak Pantai Pangandaran sore itu berpadu dengan ketukan kendang dan gemerincing gelang kaki para penari tradisional. Di bawah pendar cahaya keemasan senja pesisir selatan Jawa Barat, puluhan fotografer tampak sibuk membidikkan kamera mereka. Mereka tengah mengabadikan setiap gerak dinamis kesenian kuda lumping dan tari tradisional yang digelar di tepi pantai.

​Pemandangan ini menjadi bagian dari perhelatan Silaturahmi dengan Kamera ke-3 (SIDAK#3) bertajuk “Hunting Foto Budaya Pesisir Pangandaran”. Lewat bidikan lensa visual, komunitas kreatif, pelaku seni tradisi, serta pegiat pariwisata setempat berkolaborasi dengan satu misi besar: mengangkat khazanah tradisi lokal agar naik kelas menuju destinasi pariwisata berkelas dunia.

​Langkah ini dinilai selaras dengan pergeseran tren pariwisata global yang kini mulai mengarah pada cultural experience tourism atau wisata berbasis pengalaman budaya. Wisatawan modern tak lagi sekadar memburu lanskap alam yang statis, melainkan mencari keautentikan interaksi sosial serta nilai-nilai tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Dalam lanskap kompetisi industri wisata modern inilah, jati diri pesisir Pangandaran diposisikan sebagai jangkar pembeda.

Bukan Sekadar Unggahan Medsos

​Pembina Fotografer Pangandaran, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar benda mati yang dipajang, melainkan identitas hidup dan kebanggaan daerah yang harus dirawat secara berkelanjutan.

​”Budaya adalah identitas dan kebanggaan daerah yang harus terus dijaga serta diperkenalkan kepada generasi masa depan dan dunia luar. Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena para fotografer tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan promosi budaya dan pariwisata daerah,” ujar Ida Nurlaela saat memberikan apresiasi kepada para peserta.

​Ida berharap kolaborasi visual yang dihasilkan dari SIDAK#3 ini menempati posisi terhormat dalam etalase pariwisata daerah, bukan sekadar berakhir sebagai unggahan temporer di media sosial. Ia menantang pelaku industri untuk mengintegrasikan kesenian tradisional, seperti tari Ronggeng Gunung yang kaya nilai historis, ke dalam ekosistem perhotelan modern melalui pemanfaatan teknologi audio-visual di lobi atau ruang tunggu tamu.

​”Ketika budaya diangkat dengan cinta dan kreativitas, maka Pangandaran akan memiliki daya tarik yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang datang,” tuturnya menekankan.

Membangun Bank Data Visual Strategis

​Lebih dari sekadar ajang unjuk keahlian memotret, SIDAK#3 diarahkan untuk menjadi wadah bagi pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan komunitas dalam merajut ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Ragam dokumentasi visual yang lahir dari hunting kebudayaan ini diproyeksikan untuk mengisi bank data visual strategis daerah.

​Nantinya, karya-karya bermutu tinggi tersebut akan diaplikasikan pada media digital promosi, ruang pameran, hingga elemen interior dekoratif di hotel-hotel serta fasilitas publik setempat.

​Ketua Fotografer Pangandaran, Yan Yan Yuliana, S.IP, memandang fotografi memiliki peran esensial dalam membentuk narasi atau branding suatu daerah pada era digital. Lewat bingkai foto, ada jalinan rasa yang bisa dihantarkan melewati batas geografis.

​”Bagi kami, fotografi bukan hanya tentang mengambil gambar, tetapi tentang menangkap rasa dan menceritakan jiwa sebuah tempat kepada dunia. Lewat kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Pangandaran tidak hanya kaya akan panorama alam, tetapi juga memiliki budaya pesisir yang kuat,” kata Yan Yan.

Sinergi Lintas Wilayah

​Semangat gotong royong dan kebersamaan lintas wilayah tercermin kuat dalam cakupan kepesertaan acara ini. Ketua Panitia SIDAK#3, Roni Cahyadi, menjelaskan bahwa forum ini berhasil menjembatani simpul-simpul kreatif dari berbagai kabupaten dan kota, meliputi jejaring komunitas fotografer dari Pangandaran, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Kuningan, hingga Cilacap.

​”SIDAK#3 hadir bukan sekadar menjadi ruang berkumpulnya para fotografer, tetapi menjadi ruang kolaborasi antara budaya, kreativitas, dan pariwisata,” jelas Roni. Ia berharap agenda ini bisa menjadi langkah awal lahirnya festival kreatif tahunan yang mampu menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat lokal secara berkelanjutan.

​Sinergi lintas teritorial ini diharapkan dapat meletakkan batu pertama bagi penguatan posisi Pangandaran sebagai destinasi wisata bahari berbasis budaya di kancah internasional.