Enam Kali Ditolak, Harapan Saiman Akhirnya Berlabuh di Tangan Ida Nurlaela
PANGANDARAN, SPC — Di usia senjanya yang menginjak 72 tahun, Saiman hanya bisa menggantungkan harap pada langit-langit rumahnya yang ringkih. Bertahun-tahun warga Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran ini hidup dalam bayang-bayang dinding yang rapuh dan atap yang tak lagi mampu membendung air hujan.
Namun, air mata yang tumpah dari pelupuk mata Saiman pada pekan ini bukan lagi karena getirnya kemiskinan, melainkan haru yang membuncah. Doa yang dipanjatkannya bertahun-tahun akhirnya terjawab. Rumah yang nyaris roboh itu kini mulai dipugar.
”Terima kasih Bu Ida sudah merenovasi rumah saya. Semoga selalu diberikan kesehatan,” ucap Saiman lirih dengan suara bergetar saat ditemui di kediamannya.
Jalan Saiman mendapatkan hak atas hunian layak bukanlah perkara mudah. Pria lanjut usia ini mengaku telah enam kali mengajukan permohonan bantuan renovasi rumah melalui jalur birokrasi. Namun, berkas-berkas yang ia kirimkan seolah raib ditelan meja-meja administrasi tanpa ada kepastian. Enam kali pengajuan, enam kali pula ia harus menelan kekecewaan.
Kebuntuan itu pecah saat anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, memutuskan turun langsung ke lokasi. Kehadiran Ida menjadi anomali di tengah birokrasi yang sebelumnya tampak beku bagi Saiman.
Menariknya, Ida menegaskan bahwa renovasi rumah Saiman tidak menggunakan sepeser pun uang negara. Ia menyebut langkah ini sebagai gerakan personal untuk memotong rantai prosedur yang seringkali lamban bagi warga yang dalam kondisi darurat.
”Kegiatan seperti ini menggunakan biaya pribadi. Memang tidak ada program dari pusat untuk bantuan rutilahu (rumah tidak layak huni) seperti ini. Saya bergerak di lingkungan yang memang benar-benar mendesak untuk dibantu,” ujar Ida kepada media.
Bagi Ida, membantu Saiman bukan sekadar urusan semen dan batu bata. Ia menyoroti mulai lunturnya semangat komunal di tingkat akar rumput. Melalui renovasi ini, ia berharap bisa memantik kembali “urat nadi” sosial yang mulai melemah.
”Bantuannya mungkin tidak seberapa, tapi yang penting adalah bagaimana kita mengedukasi masyarakat untuk kembali menghidupkan sifat gotong royong,” tambahnya lagi.
Kini, Saiman tak perlu lagi cemas saat mendung menggelayuti langit Parigi. Dinding yang dulu membahayakan keselamatannya perlahan mulai berdiri kokoh. Di sisa usia senjanya, Saiman akhirnya merasakan apa yang selama ini ia rindukan: perasaan didengar dan diperhatikan oleh sesama manusia.




