Penghargaan Nobel sering disebut apresiasi terbesar pada suatu sosok atas kiprahnya di bidang kemanusiaan.

Prestise yang tinggi, ditambah rasa bangga yang besar, sudah pasti dirasakan sang penerima Nobel.

Tapi, sosok-sosok berikut ini, rupanya berbeda. Mereka menolak Penghargaan Nobel, dengan berbagai alasan.

Siapa saja mereka dan apa alasannya menolak Nobel?

Jean-Paul Sartre

Jean-Paul Sartre dianugerahi Hadiah Nobel Sastra 1964.

Karyanya disebut kaya gagasan, penuh semangat kebebasan, dan pencarian kebenaran.

Namun, Sarte menolak anugerah Nobel demi mempertahankan sikapnya yang menolak semua penghargaan resmi.

Menurut dia, penghargaan tersebut hanya akan membebani karya dan pembacanya.

Ia juga mengaku tidak sejalan dengan penyelenggara anugerah Nobel yang dianggap tidak adil kepada para penulis dari blok timur yang beraliran komunis.

Le Duc Tho

Le Duc Tho adalah pemimpin Vietnam yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian 1973.

Dia berhak menerima Nobel atas keputusannya bersama AS, menandatangani perjanjian damai yang berhasil mengakhiri perang Vietnam.

Namun, dia menolak penghargaan dan tidak datang ke upacara penerimaan karena menganggap tidak dalam posisi untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian.

Pertimbangan utamanya adalah situasi di Vietnam yang belum kondusif.

Richard Kuhn

Ahli biokimia ini menolak Hadiah Nobel dalam Kimia 1938 atas penelitiannya soal karotenoid dan vitamin.

Meski demikian, dia baru menerima penghargaan itu tahun 1939 karena keputusan Yayasan Nobel.

Kala itu, penyelenggara menilai tidak ada nominasi yang memenuhi kriteria wasiat Alfred Nobel, sehingga menunda menyerahkan penghargaan setahun lamanya.

Namun, dia terpaksa menolak penghargaan tersebut atas perintah Adolf Hitler.

Ilmuwan Jerman ini kemudian hanya mendapatkan medali dan tidak mendapatkan uang hadiahnya.

Adolf Friedrich Johann Butenandt

Adolf Friedrich Johann Butenandt meraih Hadiah Nobel Kimia 1939 atas penelitiannya soal hormon seksual.

Ia berbagi penghargaan tersebut bersama Leopold Ruzicka, ilmuwan Swedia yang menciptakan polimetilen dan terpen yang lebih tinggi.

Namun Butenandt terpaksa menolak penghargaan tersebut karena berada di bawah kuasa rezim Nazi, pimpian Adolf Hitler.

Pria berdarah Austria-Jerman ini kemudian baru menerima hadiahnya tahun 1949 ketika Perang Dunia II berakhir.

Gerhard Domagk

Gerhard Domagk juga mengalami nasib yang sama ketika harus menolak Hadiah Nobel atas perintah Nazi.

Padahal, dia memenangi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran 1939 untuk penemuan efek antibakteri prontosil.

Kiprahnya itu menjadi inovasi besar di dunia kesehatan saat itu karena berhasil mencegah banyak orang dari kematian akibat infeksi bakteri.

Boris Pasternak

Penyair Rusia ini meraih Hadiah Nobel dalam Sastra 1958 atas karya literasinya termasuk novel fenomenal, Dokter Zhivago.

Pria bernama lengkap Boris Leonidovich Pasternak telah melakukan pencapaian penting baik dalam puisi liris kontemporer maupun di bidang tradisi epik besar Rusia.

Sayangnya, ia harus menolak anugerah tersebut karena tekanan otoritas Uni Soviet, bentuk lain Rusia kala itu.

Jika berkeras menghadiri upacara penghargaan di Swedia, dia terancam tidak akan bisa lagi kembali ke negaranya dan bertemu keluarganya.
Sumber: KOMPAS.com