”Hidup atau Mati Saya di Sini!” Kisah Jeje Wiradinata Tolak Dirujuk ke Bandung demi RSUD Pandega
PANGANDARAN, SPC – Ketua DPC PDI Perjuangan sekaligus Bupati Pangandaran periode 2016-2024, Jeje Wiradinata, membagikan kisah emosional di balik berdirinya RSUD Pandega. Siapa sangka, rumah sakit megah kebanggaan warga Pangandaran ini bermula dari keprihatinan Jeje melihat kondisi Puskesmas yang kumuh.
Dalam video unggahan terbarunya menyambut Hari Jadi ke-6 RSUD Pandega, Jeje mengenang masa-masa awal menjabat sebagai bupati. Saat itu, akses kesehatan di Pangandaran jauh dari kata layak.
”Saya ingat betul awal-awal jadi bupati, yang saya pikirkan adalah kesehatan. Kita tidak punya rumah sakit, Puskesmas kita asal ada, ruangannya bau pesing, dokter cuma ada 10 sampai 19 orang,” ujar Jeje dalam video yang dilihat SPC, Senin (30/3/2026).
Modal ‘Bismillah’ dan Anggaran Fantastis
Jeje mengaku sempat didera keraguan karena keterbatasan anggaran daerah. Namun, didorong tekad kuat untuk menyehatkan warga Pangandaran, ia memutuskan untuk “tancap gas”.
Berikut poin-poin krusial perjuangan Jeje bangun RSUD Pandega:
- Anggaran Jumbo: Menghabiskan dana sekitar Rp 266 miliar untuk konstruksi fisik.
- Berburu Dokter Spesialis: Jeje tak mau gedung megah tapi sepi ahli. Ia berburu dokter spesialis jantung, kandungan, hingga penyakit dalam.
- Tunjangan Tinggi: Demi menarik minat dokter spesialis, Jeje berani memenuhi permintaan TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) yang layak.
- Kerja Sama Akademis: Menggandeng Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk pemenuhan SDM medis.
”Gedung sekeren ini tidak mungkin diisi dokter umum saja. Saya bismillah, dengan segala keterbatasan anggaran, saya bangun rumah sakit ini,” tegasnya.
Momen Taruhan Nyawa saat Covid-19
Ujian terberat muncul pada tahun 2020. Saat RSUD Pandega baru seumur jagung, pandemi Covid-19 menghantam. Jeje yang saat itu positif Corona sempat diminta rujuk ke Bandung oleh tim dokter karena kondisinya yang mengkhawatirkan.
Namun, Jeje menolak mentah-mentah. Ia memilih bertaruh nyawa di RSUD Pandega.
”Saya merenung, kalau bupati saja tidak percaya pada RSUD Pandega saat Covid, maka kepercayaan masyarakat akan pudar. Saya putuskan, hidup atau mati, saya tetap ingin dirawat di Pandega,” kenang Jeje.
Pesan Menohok untuk Manajemen
Di usia yang ke-6 ini, Jeje berpesan agar seluruh jajaran RSUD Pandega tidak cepat berpuas diri. Ia meminta direktur hingga perawat untuk rajin melakukan ‘auto-kritik’.
”Ulang tahun itu harus jadi perenungan. Apakah aku sudah bekerja dengan baik? Apakah aku sudah memberikan pengabdian luar biasa kepada masyarakat?” tutupnya.



