9 Kuliner Ekstrim di Indonesia

Makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Banyak budaya
kuliner di Indonesia yang membuat dahi berkerenyit.

Tapi makanan-makanan
tersebut adalah kebijakan lokal yang dihasilkan dari proses pembelajaran dan
perjuangan masyarakat setempat yang harus kita hormati.

Pernahkah terpikir
bagaimana orang Indonesia Timur berhasil mengolah sagu menjadi makanan, padahal
prosesnya tidak mudah…. bukan sekedar petik dan rebus?

Yang pasti sebagai seorang peminat kuliner, beberapa kuliner
ekstrim khas Indonesia ini tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke
daerahnya. Apa saja itu?

Mohon konsultasi dengan pemuka agama masing-masing tentang
apa yang dapat dimakan dan apa yang sebaiknya dihindari.

1. Ular Kobra

Warung Ular Kobra di Mangga Besar, Jakarta
Warung Ular Kobra di Mangga Besar, Jakarta

Kobra adalah ular yang paling ditakuti karena racunnya. Tapi di
Indonesia, ular kobra ditangkar dan diternakkan untuk dikonsumsi.

Alasan
mengkonsumsi adalah untuk kesehatan. Tapi menurut beberapa orang bule yang
berani mencobanya, rasanya enak.

Nah, masa sebagai orang Indonesia malah kamu
kalah sama mereka. Ayo coba.

Setelah dipenggal kepala yang mengandung racun, ular lalu dikuliti.
Empedu dan darahnya diambil dan dicampur untuk menjadi minuman.

Lalu dagingnya
dibuat berbagai macam masakan, seperti rica atau goreng dan lain-lain menurut
spesialisasi warung atau permintaan konsumen.

Setelah menikmati daging kobra,
maka kamu harus mencoba minum darahnya.

Dimana kita bisa menemukan kuliner ngeri-ngeri sedap ini? Dulu banyak
sekali lho di Mangga Besar Jakarta dan sampai sekarang pun masih ada.

Masakan
ini juga bisa ditemukan di Kota Yogyakarta.

Baca juga:  Ingin Belajar Memasak Masakan Indonesia? Kenali dulu Berbagai Bumbu Rempah Berikut

2. Ulat Sagu

Anak Papua menikmati Ulat Sagu
Anak Papua menikmati Ulat Sagu

Ulat adalah binatang yang terkenal dapat bermetamorfosis dari jelek
menjadi si cantik kupu-kupu.

Tapi ulat yang akan kita temui ini tidak akan
berubah menjadi apapun, kecuali makanan lezat dari Papua.

Apa ya rasanya? Gurih, enak dan ternyata dapat menurunkan kolesterol dan
tekanan darah tinggi. Ulat sagu bisa dimakan mentah maupun dibakar dulu.

Hati-hati, kalau sudah berhasil melampaui rasa jijiknya, bisa-bisa kamu
ketagihan!

3. Paniki

Rica Paniki di Manado
Rica Paniki di Manado

Paniki adalah sebutan kelelewar bagi orang Minahasa, Manado,  Sulawesi Utara.

Yup…. Betul… binatang bermuka
seperti tikus yang menguasai malam dan menjadi inspirasi bagi karakter Batman.

Jenis
kelelawar yang dipakai adalah jenis kelelawar pemakan buah, dan biasanya
dimasak rica, jadi agak pedas.

Rasa dagingnya enak, lembut, dan kalau tidak
tahu mungkin sama saja dengan makan ayam.

Namun sensasi rasa yang juga harus
dicoba adalah sayapnya yang kriuk-kriuk, seperti makan jamur kuping.

4. Tikus

Iklan. Geser ke bawah untuk melanjutkan

Tikus panggang
Tikus panggang

Masih di daerah Manado, tikus
juga jadi masakan khas yang harus dicoba bila berkunjung ke sini.

Jangan
membayangkan tikus-tikus got yang jorok dan makan sembarangan.

Tikus yang
diolah di sini adalah tikus hutan berekor putih yang hanya makan
tumbuh-tumbuhan dan hidup liar.

Tikus diolah dengan cara dibakar dan kemudian
dibuat rica-rica.  

5. Rica Biawak

Biawak,
adalah binatang satu genus dengan Komodo, yang hanya hidup di Pulau Komodo.

Panjang biawak bisa mencapai 2 meter, larinya cepat dan bisa menggigit. Tapi di
berbagai wilayah di Indonesia, biawak sering kali dibuat makanan. Digoreng
enak, dibuat rica pedas pun enak.

Baca juga:  Mencari Kuliner Enak Berbahan Babi di Semarang

Biawak bisa ditemukan di pusat-pusat kuliner ekstrim di Jakarta dan
sepanjang pulau Jawa.

Biawak juga bisa ditemukan dari Sumatera Utara sampai
Sulawesi Utara.

Oh ya, kabarnya daging biawak itu baik untuk menyembuhkan kulit
yang bermasalah seperti kurap.

6. Belalang Goreng

Belalang goreng
Belalang goreng

Teman Po Panda yang jago Kung Fu rasanya terlalu lucu atau malahan
terlalu seram dibayangkan untuk berada di mulut kita.

Tapi sebenarnya sebagian
besar budaya petani adalah memakan binatang-binatang yang menjadi hama
tumbuhan.

Karena panen sering gagal karena hama ini, maka petani pun sering
terpaksa menjadikannya makanan pengganti.

Olahan
belalang sebagai makanan paling sering adalah dengan digoreng. Rasanya kriuk
dan gurih selama kita tidak melihat bentuknya.

Yuk coba kenekadan kamu dan
makan belalang sambil buka mata.

7. Darah

Saren dimakan bersama nasi pincuk
Saren dimakan bersama nasi pincuk

Di banyak agama samawi, darah tidak boleh dimakan, karena darah dianggap
menyimpan kehidupan makhluk itu baik manusia maupun binatang.

Tapi sebenarnya
di Indonesia, masyarakat memiliki filosofi untuk memakan seluruh binatang, baik
untuk menghormati pengorbanannya sekaligus juga untuk mengurangi limbah yang
dihasilkan.

Masyarakat Batak memasak daging dengan darahnya menjadi makanan yang
disebut Saksang.

Masyarakat Jawa mengukusnya dan menyebut Saren atau Marus. Di
Bali pun ada makanan lawar merah yaitu urap dicampur daging dan darah.

Baca juga:  Pantau Seleksi Timnas Indonesia U-17 di Manado, Zainudin Amali: Tidak Ada Pemain Titipan

Masih di
Bali, Oret adalah semacam susis yang mengandung darah selain dari daging dan
rempah.

Makan
darah harus hati-hati dan memastikan proses pengolahannya bersih. Tapi rasanya
gurih, lembut dan tidak amis.

8. Torpedo

Gulai Torpedo
Gulai Torpedo

Torpedo adalah testis sapi atau kambing. Ya
betul, bagian tubuh sapi jantan yang akan menghasilkan sapi-sapi mungil.

Apa ya
rasanya? Biasanya torpedo ini disantap dengan bumbu gulai atau soto kaki.
Banyak lho bisa ditemukan di beberapa warung soto kaki di Jakarta.

9. Trites

Trites, Soto Isi Perut Sapi
Trites, Soto Isi Perut Sapi

Trites sering juga disebut Pagit-pagit, dan merupakan makanan khas Batak
Karo. Trites dibuat isi dari perut besar sapi.

Mungkin kita familiar dengan
babat yang sering dijumpai di soto-soto.

Bedanya adalah Trites ini tidak mengambil
babatnya, namun isi yang masih ada di perutnya, yaitu semua makanan sapi yang
sudah masuk ke dalam perutnya namun belum diolah.

Mungkin untuk dapat memahami makanan ini, kita harus memahami cara sapi
memproses makanannya.

Kalau kita makan sesuatu, maka setelah ditelan makanan
itu langsung diolah oleh tubuh kita dengan berbagai enzim.

Sapi tidak. Sapi
menyimpan makanan di perut besar dan suatu waktu akan dikeluarkan melalui mulu
dan dikunyah kembali.

Baru setelah pengunyahan kembali itu, makanan akan masuk
ke proses pencernaan sampai ke pembuangan.

Nah
jadi Trites ini memanfaatkan rumput-rumput yang belum dicerna, lalu diperas.

Air perasannya direbut hingga 3 jam sehingga menghasilkan kaldu yang gurih.
Hasilnya….coba saja yaaa.