PANGANDARAN — Puncak musim kemarau membawa berkah melimpah bagi para nelayan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pada Selasa (4/8/2026) hari ini, pergerakan ekonomi di pesisir Pangandaran melonjak tajam seiring melimpahnya hasil tangkapan laut, khususnya jenis ikan tongkol kuning.

​Satu armada kapal nelayan Pangandaran tercatat mampu memboyong hingga 1,5 ton ikan tongkol kuning hanya dalam sekali melaut. Kondisi ini memberikan pendapatan kotor yang fantastis bagi para nelayan, yakni berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per tangkapan.

​Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari Pangandaran, Jeje Wiradinata, mengungkapkan bahwa kondisi iklim dan cuaca laut pada bulan Agustus menjadi periode emas bagi aktivitas penangkapan ikan.

​Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari Pangandaran, Jeje Wiradinata

​”Kalau petani di daratan sedang kesulitan menanam karena tidak ada air, nelayan kita di musim kemarau ini justru panen manis,” ujar Jeje saat memantau aktivitas lelang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran, Selasa (4/8/2026).

​Transaksi TPI Tembus Rp 14,7 Miliar

​Tingginya volume tangkapan tongkol kuning dan komoditas laut lainnya berbanding lurus dengan nilai perputaran uang di TPI KUD Minasari. Jeje menyebutkan, akumulasi transaksi keuangan di TPI resmi tersebut menunjukkan tren kenaikan yang sangat signifikan.

​Hingga pertengahan tahun ini, akumulasi nilai transaksi di KUD Minasari tercatat sudah menembus angka Rp 14,7 miliar.

​Laju transaksi harian di pelelangan ikan saat ini berada di kisaran Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per hari, dengan standar rata-rata minimal berada di angka Rp 150 juta saban harinya.

​Pihak KUD Minasari pun optimistis, fenomena suhu dingin air laut yang memancing kelompok ikan permukaan hingga akhir tahun akan mendorong total transaksi menembus angka Rp 30 miliar.

​Pendekatan “Dari Hati ke Hati” Jadi Kunci

​Jeje menegaskan, melimpahnya tangkapan nelayan tidak serta-merta membuat TPI dibanjiri transaksi tanpa adanya pembenahan manajemen. Mengingat nelayan tidak memiliki kewajiban mutlak untuk menjual hasil tangkapannya di KUD, pengurus menerapkan strategi pelayanan dan pendekatan dialogis.

​Untuk merangkul para nelayan, KUD Minasari rutin menggelar rembug bulanan melalui pertemuan tatap muka secara berkala setiap bulan bersama kelompok nelayan guna menyerap aspirasi serta memetakan kendala teknis di lapangan.

​Selain itu, KUD Minasari juga memberikan jaminan logistik melaut dengan hadir memfasilitasi kepastian pasokan logistik vital. Dukungan ini mencakup ketersediaan pasokan es batu untuk menjaga kesegaran ikan seperti tongkol kuning, hingga memberikan kemudahan akses Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bagi para nelayan.

​Melalui langkah pembenahan tata kelola dan pendekatan dialogis tersebut, kepercayaan nelayan lokal untuk menyalurkan seluruh hasil buruannya ke TPI KUD Minasari kian solid.