Menyambung Harapan di Ruang Perinatologi: Surat Haru Orang Tua Bayi Kembar untuk Perawat RSUD Pandega
PANGANDARAN — Di balik hening dan deru mesin medis ruang Perinatologi RSUD Pandega Pangandaran, tersimpan kisah-kisah perjuangan hidup yang acap kali tak terekspos. Salah satunya terungkap lewat sepucuk surat sederhana namun menyentuh hati dari pasangan suami istri, Sulastri Khairun Nisa dan sang suami.
Surat tersebut ditujukan khusus kepada seluruh tim perawat dan suster di unit Perinatologi/NICU RSUD Pandega. Bagi pasangan ini, masa-masa mendampingi buah hati kembar mereka yang dirawat di ruang perawatan intensif bayi bukanlah perkara mudah. Ketegangan, rasa cemas, hingga keletihan mental menjadi bagian dari keseharian yang harus dilalui.
Namun, di tengah perjuangan tersebut, kehadiran para tenaga medis menjadi pilar penyokong yang menguatkan. Dalam suratnya, Sulastri menuliskan rasa terima kasih mendalam atas dedikasi, kesabaran, dan kasih sayang yang dicurahkan para perawat selama anak kembar mereka menjalani perawatan.
”Perawat bukan hanya sekadar menjalankan tugas, tetapi telah menjadi ‘ibu kedua’ yang menjaga mereka di saat kami tidak bisa mendampingi 24 jam,” tulis Sulastri dalam petikan surat yang dibagikan oleh pihak manajemen RSUD Pandega melalui media sosial resminya.
Bagi keluarga pasien, pertolongan dan perhatian yang diberikan oleh para nakes di ruang isolasi dan perawatan khusus tersebut dirasakan bagaikan perpanjangan tangan Tuhan untuk kesembuhan buah hati mereka.
Pihak manajemen RSUD Pandega Pandangan menyambut hangat apresiasi tulus tersebut. Manajemen menyampaikan bahwa setiap doa dan dukungan dari keluarga pasien menjadi suntikan semangat utama bagi seluruh tim medis untuk terus memberikan pelayanan yang aman, profesional, dan penuh empati.
Kisah dari ruang Perinatologi ini menjadi pengingat bahwa di balik prosedur medis yang dingin dan kaku, sentuhan kemanusiaan dan empati para perawat tetap menjadi inti dari pemulihan pasien.



