Pangandaran – Jembatan Sintok di Desa Ciparakan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, sempat dibangun pada tahun 2016. Namun saat pembangunan belum rampung, kontruksi jembatan keburu ambruk terseret arus banjir.

Kini, warga kembali berharap pemerintah membangun jembatan di sana, dan mewujudkan mimpi mereka.

Saat musim hujan seperti sekarang, mereka selalu dihantui kehawatiran saat melintasi sungai. Saat debit air sungai tinggi, aktivitas warga terganggu. Mereka tak bisa melintas dan harus memutar dengan jarak tempuh lebih jauh.

Kekhawatiran atas keselamatan mereka tak hanya disaat musim hujan. Meskipun dangkal, kondisinya tetap berbahaya karenak arus sungai mengancam keselamatan jiwa warga yang melintas.

Selain warga, keselamatan juga mengancam para pelajar yang melintasi sungai tersebut. Padahal jalur tersebut menjadi satu satunya jalan, saat berangkat maupun pulang sekolah.

Wajar, jika para pelajar SDN 4 Ciparakan Kecamatan kalipucang, sampai menuangkan mimpinya melalui pembuatan miniatur jembatan sebagai sebagai tugas kelompok dari sekolah.

Menurut Karji siswa yang duduk di kelas 6, pihak sekolah memberikan tugas untuk membuat kerajinan tangan. Atas kesepakatan bersama akhirnya mereka membuat miniatur jembatan.

“Ada beberapa kelompok, semuanya membuat miniatur jembatan dan berbeda beda nama jembatannya, termasuk jembatan sintok yang berada di desa kami,” ucap Karji, Rabu (04/11/2021).

Menurutnya, alasan memilih membuat miniatur jembatan, karena para pelajar sangat berharap pemerintah membangun Jembatan Sintok.

“Agar setiap berangkat dan pulang sekolah tidak kesulitan, dan aman saat melintasi Sungai Sintok. Meskipun sudah terbiasa melintasinya, tetap saja suka ada rasa takut terpeleset,” ungkapnya

Dirinya menuturkan, setiap berangkat atau pulang sekolah, mau tidak mau harus mencopot sepatu agar tidak basah sehingga bisa menggunakannya esok hari.

“Kami bersama teman-teman yang lain, sangat mendambakan jembatan di Sungai Sintok,” harapnya.

Menurut Kepala Sekolah SDN 4 Ciaprakan Adang Rahman, jumlah siswa yang rutin melewati Sungai Sintok ada 9 orang. Ditambah para siswa sekolah satu atap.

“Memang menjadi kendala saat air meluap, siswa tidak bisa sekolah karena tidak bisa melintasi sungai,” ujarnya.

Jalan satu satunya supaya pembelajaran tetap berjalan, kata Adang, pihaknya melakukan metode daring karena siswa tidak bisa berangkat ke sekolah.

“Untuk pembuatan miniatur jembatan itu ide siswa kami, kemungkinan mereka sangat mendambakan jembatan. Maka saat siswa kelas 6 diberi tugas membuat kerajinan dari stik es krim, mereka sepakat membuat miniatur jembatan,” ungkapnya. (Eris Riswana)