Menelusuri Lorong Harapan Bersama Program Mapay Pandega
PANGANDARAN – Lorong-lorong RSUD Pandega Pangandaran kini tak lagi sekadar menjadi saksi bisu derap langkah paramedis yang terburu-buru. Di tengah aroma antiseptik dan kesibukan klinis, sebuah inisiatif bertajuk MAPAY PANDEGA (Manajemen Sapa Pasien Pandega) hadir untuk mengikis sekat kaku antara penyedia jasa kesehatan dan mereka yang tengah berjuang untuk pulih.
Program ini bukan sekadar seremoni ketuk pintu. Di bawah komando dr. Indah Adhiarini Sukma, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Pandega, “Mapay”—yang dalam bahasa Sunda berarti menelusuri atau menyusuri—diterjemahkan menjadi tindakan nyata jemput bola. dr. Indah memimpin langsung upaya untuk memastikan bahwa setiap pasien bukan sekadar angka di atas kertas rekam medis, melainkan subjek yang berhak atas kenyamanan dan penjelasan yang gamblang.
”Kami ingin memastikan bahwa kehadiran kami di sini bukan hanya untuk mengobati fisik, tapi juga memberikan dukungan moral. Sapaan sederhana bisa menjadi obat yang tak tertulis dalam resep,” ujar dr. Indah dalam sebuah kesempatan.
Mendengar di Balik Masker
Inti dari MAPAY PANDEGA adalah audit kualitas pelayanan secara real-time. Melalui dialog langsung, manajemen rumah sakit dapat menangkap keluhan, masukan, hingga apresiasi yang seringkali luput dari kotak saran konvensional.
Langkah ini dianggap strategis oleh banyak pihak. Di tengah tuntutan publik akan transparansi dan kualitas layanan kesehatan daerah, RSUD Pandega mencoba memosisikan diri sebagai institusi yang humanis. Dr. Indah menekankan bahwa manajemen harus tahu persis apa yang dirasakan pasien selama berada di bangsal perawatan—mulai dari keramahan perawat hingga kebersihan fasilitas.
Transformasi Layanan
Bagi RSUD Pandega, inovasi ini adalah bagian dari upaya besar transformasi pelayanan medis di Pangandaran. Dengan cara ini, hambatan komunikasi yang kerap memicu ketidakpuasan pasien dapat dimitigasi sejak dini.
Namun, tantangan sesungguhnya adalah konsistensi. Di balik naskah kebijakan yang apik, “Mapay” menuntut stamina manajemen untuk terus turun ke lapangan, menyapa, dan mendengar—sebuah kerja sunyi yang hasilnya baru akan terlihat pada indeks kepuasan pasien di akhir tahun nanti.

