Sehat  

Kisah Anak Muda Pejuang Autoimun Langka

Didiagnosis pada tahun 2012 oleh spesialis penyakit dalam untuk penyakit autoimun mirip skleroderma yang langka (sklerosis sistemik).

Ana (Nama Umum) asal Kota Salatiga yang saat itu berusia 15 tahun masih duduk di bangku SD kaget mendengar keterangan dokter tersebut.

Karena saat itu Pemkab Semarang baru mendeteksi 2 Anas, salah satunya. Apa itu Skleroderma…?.

scleroderma Ini adalah penyakit langka yang menyerang jaringan ikat kulit, di mana produksi kolagen berlebih menyebabkan kelainan.

Kondisi antibodi tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari radikal bebas justru berbalik menyerang tubuh pasien itu sendiri.

Efek yang ditimbulkan pada setiap pasien berbeda-beda, yang umum dirasakan antara lain diare, konstipasi, rambut rontok, penurunan berat badan drastis, sulit menelan, kekakuan sendi, dan masih banyak lagi lainnya.

Masih belum diketahui apa penyebab serangan penyakit ini, kemungkinan faktor yang mempengaruhi adalah gen dan lingkungan.

foto: Autoimun Indonesia
foto: Autoimun Indonesia

Ada banyak jenis skleroderma, salah satunya adalah Sklerosis Sistemik itu adalah jenis sklerosis yang tidak hanya menyerang jaringan kulit tetapi juga dapat menyebar ke seluruh organ dalam lainnya.

Baca juga:  Tiongkok Usulkan Batas Dua Jam per Hari Akses Internet bagi Anak di Bawah Umur

Biasanya, organ dalam yang sering terkena adalah paru-paru atau lebih dikenal dengan ILD (ILD).penyakit paru interstisial)/fibrosis paru, Dimana kondisi paru-paru menjadi kaku dan menebal akibat jaringan parut yang terjadi pada paru-paru. Ini adalah tipe yang sedang diderita Ana saat ini.

Rata-rata jumlah penderita penyakit autoimun di Indonesia saat ini berjumlah 5.000 orang dengan berbagai jenis, dan sebagian besar terjadi pada wanita.

Dengan usia rentan rata-rata 20-30 tahun, sedangkan pada laki-laki masih sangat jarang, namun ada juga yang masih terkena.

Pemerintah bersama Kementerian Kesehatan terus melakukan pendataan pasien autoimun di Indonesia.

Sejauh ini belum ada obat untuk autoimun, yang ada hanya obat penekan sistem imun.imunosupresan) agar penyakit dapat dikendalikan.

Penyakit ini juga menimpa Ana saat ini, ia masih bertahan dan berjuang melawan penyakit langka tersebut hingga saat ini.

Ana saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Kariadi, Semarang oleh seorang rheumatologist dan sedang menjalani kemoterapi dengan siklofosfamid.

Kemoterapi hampir sama dengan kemoterapi pada pasien kanker, hanya obat yang diberikan berbeda, terapi ini harus diberikan oleh dokter kepada pasien karena tingkat penyakitnya sudah parah.

Baca juga:  Velg HSR menawarkan velg keren berjiwa muda, harga mulai dari Rp 850.000

Efeknya hampir mirip dengan efek kemoterapi untuk kanker, namun ada efek yang lebih menakutkan dalam siklus kemoterapi ini, yaitu sulitnya memiliki anak.

Ini horor dan membuat survivor skleroderma yang melakukan terapi ini, apalagi kebanyakan survivor skleroderma adalah wanita.

Begitu pula yang dihadapi Ana saat ini adalah memulai terapi siklus pertamanya pada Juli 2022.

Awalnya, Ana cukup stress memikirkan apakah akan menjalani terapi atau tidak.

Pengumuman. Gesek ke bawah untuk melanjutkan

Ia masih lajang dan tentunya memikirkan masa depannya nanti, namun di posisi lain Ana ingin terus mencapai titik stabil.

Bisa bangun sehat untuk beraktivitas dan bekerja seperti teman normal lainnya.