7 Negara dengan Mata Uang Terendah di Dunia, Termasuk Indonesia
Mata uang suatu negara memiliki peran yang sangat penting, karena dapat mempengaruhi kurs jual-beli dan juga kurs tengah.
Biasanya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kurs mata uang suatu negara.
Seperti tingkat inflasi, kebijakan pemerintah, perbedaan tingkat suku bunga, aktivitas neraca pembayaran, hingga ekspektasi.
Dalam kebanyakan kasus, mata uang suatu negara mengalami devaluasi atau penurunan nilai uang karena adanya penurunan ekonomi di dalam suatu negara.
Hal ini menyebabkan neraca pembayaran defisit dan tingkat inflasi tumbuh.
Berikut negara dengan mata uang terendah di dunia tahun 2022, dilansir dari fxssi.com.
Rial-IRR (Iran)
Penurunan nilai mata uang Iran ini dimulai tahun 1979 setelah Revolusi Islam.
Banyak bisnis meninggalkan negara ini karena situasi yang tidak pasti.
Ditambah dengan adanya Perang Iran-Irak dan sanksi ekonomi karena program nuklir negara ini.
Selain itu, Pemerintah Iran juga membatasi akses ke mata uang asing bagi warganya, yang menyebabkan peningkatan pasar gelap yang signifikan.
Semua itu merusak ekonomi dan mendevaluasi nilai mata uang Iran hampir 400 persen.
Mei 2020, Iran menghadapi inflasi yang cukup tinggi, mata uangnya terdevaluasi sebesar 600 persen.
Itulah mengapa pemerintah memutuskan untuk mengubah Rial menjadi Toman dan memangkas empat nol dari nilai nominalnya, yaitu 10.000 Rial lama akan dikonversi menjadi 1 Toman.
Dong-VND (Vietnam)
Vietnam masih berada di jalur yang sulit dari ekonomi terpusat ke ekonomi pasar, akibatnya mata uang negara ini sangat terdevaluasi.
Dong menjadi salah satu mata uang terendah di dunia.
Bahkan di kawasan Asia, Dong menjadi mata uang yang paling rendah dibandingkan dengan mata uang negara Asia lainnya.
Namun hal ini malah menjadikan Vietnam sebagai negara yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai negara di dunia.
Rupiah-Rp (Indonesia)
Nilai uang kertas model lama dinilai cukup rendah, oleh karenanya berdasarkan Keppres 5 September 2016, diterbitkan tujuh uang kertas baru.
Di antaranya dalam pecahan 1.000 sampai dengan 100 ribu rupiah.
Indonesia merupakan negara yang stabil secara ekonomi dan cukup maju di Asia Tenggara.
Namun, mata uangnya memiliki nilai tukar yang sangat rendah.
Otoritas pengatur negara mengambil semua langkah untuk memperkuat mata uang nasional, tetapi semua upaya mereka hanya menghasilkan perubahan yang tidak signifikan.
Untuk diketahui, 1 USD setara dengan Rp14.536.
Leone-SLL (Sierra Leone)
Sierra Leone merupakan negara Afrika yang sangat miskin.
Negara ini menangani banyak ujian serius yang menyebabkan mata uang lokal mendevaluasi.
Seperti perang dan virus Ebola yang mematikan berulang.
Pada Agustus 2021, Bank Sierra Leone membuat keputusan untuk merenominasi Sierra Leone Leone.
Uang kertas lama akan diganti dengan uang baru yang disebut New Leone dengan rate 1 New Leone hingga 1.000 SLL lama.
Kip-LAK (Laos)
Laos adalah satu-satunya mata uang dalam daftar ini yang tidak mendevaluasi tetapi sejak awal memang diterbitkan dengan tingkat yang sangat rendah.
Selain itu, sejak dikeluarkan pada tahun 1952, mata uang tersebut memang menguat terhadap Dolar AS dan terus meningkat nilainya.
Som-UZS (Uzbekistan)
Mata uang Uzbekistan modern diedarkan dengan perbandingan satu som sama dengan seribu som-kupon mulai 1 Juli 1994, dengan Keputusan Presiden Uzbekistan.
Hal tersebut merupakan hasil dari liberalisasi kebijakan moneter mereka mulai 5 September 2017.
Nilai tukar som terhadap dolar AS ditetapkan pada 1 USD = 8.100 UZS, dengan kisaran perkiraan 8.000-8.150 UZS untuk 1 dolar AS.
Franc Guinea-GNF (Guinea)
Mata uang Guinea mengalami devaluasi karena tingkat inflasi yang tinggi, kemiskinan yang berkembang, dan gangster yang makmur di negara ini.
Meskipun Afrika diberkahi dengan hadiah alami seperti emas, berlian, dan aluminium, namun mata uang negara ini menjadi salah satu yang paling berharga.
1 USD sama dengan 9.078 GNF (Dolar Amerika Serikat ke Franc Guinea).
(Bangkapos.com)



