Tinjau TPA Supit Urang, di Malang, Bupati Jeje : Ini Perpaduan Teknologi dan Partisipasi Masyarakat
SEPUTARPANGANDARAN.COM – Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur berhasil menyelesaikan masalah sampah di daerahnya dengan penanganan dan pengelolaan terpadu.
Itu pula yang membuat Pemkab dan DPRD Pangandaran, melakukan kunjungan kerja di Kota Malang.
Kepada rombongan yang dipimpin oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata, Walikota Malang Sutiaji menjelaskan, produksi sampah Kota Malang sangat tinggi.
Setiap hari Kota Malang setidaknya menghasilkan 600 ton sampah dari berbagai sumber dan ini perlu perhatian serius ke depannya.
“Volume sampah akan semakin tinggi dan pasti jadi masalah tersendiri kalau tidak ada langkah penanganan dan pengelolaan secara terpadu,” ujar Sutiaji, Kamis (26/3/2021).
Untuk menghadapi masalah tersebut, Kota Malang melakukan edukasi secara terus menerus tentang budaya bersih.
Melakukan langkah pemilahan jenis sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga serta tertib waktu pengambilan sampah dan tidak berperilaku membuang sampah tidak pada tempatnya.
Dirinya juga mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang untuk menguatkan secara terus menerus model Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bersistem penguraian (usefull system).
Hal ini berarti tidak boleh ada lagi pola sampah ditumpuk maupun ditimbun. “Begitu terus terusan dan berganti dengan mendaur atau menjadikan sampah itu sebagai energi yang terbarukan (terurai),” tambahnya.
Kepala DLH Kota Malang, Wahyu Setianto menjelaskan, pihaknya tengah melakukan proyek sanitary landfill di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang.
Program ini setidaknya sudah berjalan hampir dua tahun. Proyek yang membuat himpunan sampah lebih ramah lingkungan ini dicanangkan selesai akhir 2019.
Menurut Wahyu, proyek sanitary landfill ini telah menelan biaya sekitar Rp 195 miliar. Program ini merupakan sumbangan dari perusahaan Jerman dan Kemen PUPR.
Meski telah menetapkan program ini, kata Wahyu mengaku, pengolahan 600 ton sampah setiap harinya belum menunjukkan hasil siginifikan.
“Artinya, pola pemilahan sejak di tingkat rumah tangga tetap harus didorong. Tidak bisa semua ditumpuhkan ke sini (TPA). Karenanya terus kita hidupkan Pusat Daur Sampah, rumah komposting dan juga Bank Sampah Malang,” terangnya.
Berdasarkan aturan pemerintah, sanitary landfill itu aman bagi lingkungan. Sebab, program ini menerapkan teknologi pencegahan pencemaran.
“Caranya dengan penimbunan dan pengelolaan air lindi (leachate) serta penangkapan gas methan yang bisa dimanfaatkan untuk sumber energi.”
Wahyu menerangkan, penerapan teknologi sanitary landfill dilaksanakan dengan beberapa lapisan. Beberapa di antaranya meliputi penyiapan dan pelapisan lahan pembuangan (sel aktif) TPA. Hal ini biasanya menggunakan tiga lapis penutup tanah seluas kurang lebih delapan hektare (ha).
Menurutnya, jenis lapisan penutup pertama (lapisan paling bawah) berupa bahan gel sintetis setebal kurang lebih satu centimeter (cm). Bagian ini bertugas menahan kebocoran air lindi agar tidak mencemari tanah.
Lapisan kedua dan ketiga berupa karpet sintetis khusus berserat kasar. Seluruh bahan pelapis ini merupakan bahan berkualitas tinggi. Sebab, bahan khusus ini didatangkan langsung dari Jerman.
Selanjutnya, lapisan di atas hamparan karpet pelapis berupa batu koral dengan diameter dua cm. Bagian ini ditumpuk dengan rata setinggi kurang lebih 50 cm. Lapisan tersebut berfungsi sebagai bahan penyaring air lindi sehingga akan merembes di antara bebatuan.
“Di atas tumpukan batuan tersebut, sampah ditaruh dan ditumpuk, diratakan, dan ditimbun tanah setiap ketinggian tanah satu hingga dua meter agar mencegah dihinggapi lalat dan juga dapat mencegah terjadinya kebakaran,” ujarnya.
Untuk air lindi ditampung dan disalurkan ke kolam penampungan pengolahan lindi (IPAL/Instalasi Pengolahan Air Limbah).
“Aspek ini menggunakan sistem pemurnian bertahap dan dilengkapi bak kontrol. Sementara gas methan ditangkap menggunakan pipa agar bisa digunakan sebagai sumber energi.” jelasnya.
Partisipasi Masyarakat
Dalam penanganan sampah, lanjut Wahyu, Pemkot Malang menggandeng berbagai komunitas untuk bersama melakukan kesadaran dan menggalakan budaya bersih.
“Kita juga dibantu para relawan dari tingkat RT, RW, Dusun, Kelurahan dan Kecamatan. Jumlahnya ribuan orang, dan semuanya sifat nya sukarela tanpa pamrih sepeserpun,” terangnya.
Untuk sosialisasi dan edukasi secara terus menerus tentang budaya bersih, Pemkot Malang memanfaatkan dan bekerjasama dengan RRI dengan sebuah program yang dikemas dalam bentuk dialog interaktif.
“Sosialisasi tentang budaya bersih ini, harus dilakukan terus menerus dan berkesinambungan,” tegasnya.
Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata mengaku sangat terinspirasi dengan langkah yang dilakukan dalam penanganan sampah.
“Menarik soal keterlibatan masyarakat dalam budaya bersih, termasuk dalam penanganan sampah,” terangnya.
“Kalau dibanding kota Malang, volume sampah di Kabupaten Pangandaran, ternyata lebih sedikit. Artinya optimis dalam penanganannya akan dapat dilakukan,” katanya.
Artinya, kata Jeje, jika pemilahan sejak di tingkat rumah tangga dilakukan, hingga ada proses komposing, maka tidak perlu semuanya di bawa ke (TPA).
“Hasil studi banding ini, akan kita evaluasi, dicari formulasi yang tepat untuk diterapkan di Pangandaran,” ujar Jeje.***


