PANGANDARAN, SPC — Bagi Ida Nurlaela Wiradinata, politik bukanlah panggung yang dibangun dalam semalam melalui baliho atau keriuhan kampanye singkat. Keberhasilannya melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X adalah buah dari apa yang ia sebut sebagai “investasi sosial” selama tujuh tahun terakhir.

​Dapil Jabar X yang meliputi Kabupaten Ciamis, Kuningan, Pangandaran, dan Kota Banjar bukanlah medan yang ringan. Namun, Ida memiliki modal yang tidak dimiliki semua kontestan: kedekatan emosional dengan konstituen melalui belasan organisasi yang ia pimpin selama mendampingi suaminya, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata.

​”Saya memiliki 15 jabatan ketua selama menjadi Ibu Bupati dua periode. Itu menjadi modal saya melangkah,” ujar Ida saat ditemui beberapa waktu lalu.

​Melampaui Peran Domestik

​Meski menyandang status sebagai istri kepala daerah, Ida enggan sekadar menjadi pendamping seremonial. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Dekranasda, kerajinan anyaman tas berbahan rumput gunung atau Hata dari Pangandaran berhasil menembus pasar Eropa, seperti Belanda dan Swiss. Capaian ini bahkan mengantarkan Pangandaran meraih Jabar Award.

​Namun, ia mengakui bahwa membangkitkan ekonomi kreatif adalah tanggung jawab terberat. “Paling berat itu membangkitkan semangat kreatif. Kami memfasilitasi mulai dari pelatihan produk, inovasi, hingga menggratiskan perizinan dan sertifikasi halal,” tuturnya.

​Di bidang kesehatan, perannya sebagai Bunda Stunting juga membuahkan penghargaan tingkat nasional. Ida menginisiasi gerakan konsumsi tanaman kelor—sumber daya lokal yang melimpah—sebagai solusi pencegahan tengkes (stunting) bagi anak-anak usia dini di wilayahnya.

​Strategi “Apa Adanya”

​Dalam kontestasi legislatif, Ida memilih jalan yang cenderung tidak populer di tengah maraknya politik transaksional. Ia hanya berkampanye efektif selama tiga bulan tanpa mengandalkan kekuatan uang untuk menarik suara.

​Sebagai kader PDI Perjuangan, ia secara lugas menyampaikan kepada calon pemilihnya bahwa ia tidak akan melakukan kegiatan yang bersifat hura-hura. “Kami jelaskan pakem kami adalah partai wong cilik. Saya tidak menganggap diri saya harus menang, saya kembalikan pilihannya kepada masyarakat,” kata Ida.

​Menariknya, meski bersuamikan seorang bupati sekaligus Ketua DPC PDI-P Pangandaran, Ida mengaku tidak mendapatkan fasilitas istimewa. Sang suami tetap menjaga netralitas posisi strukturalnya. Ida justru bersaing dengan caleg lain yang memiliki modal besar dan penguasaan teknologi mutakhir.

​Hasil perolehan suara yang signifikan akhirnya membuktikan bahwa kerja-kerja sosial melalui giat Desa Pelopor selama tujuh tahun terakhir jauh lebih membekas di hati masyarakat ketimbang janji kampanye sesaat.

​Visi untuk Pangandaran

​Kini, sebagai wakil rakyat di tingkat pusat, Ida memikul tanggung jawab besar. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan Pangandaran sebagai destinasi wisata berkelas dunia yang didukung oleh konektivitas udara melalui pengembangan bandara.

​Ia menyadari posisinya sebagai pendatang baru di parlemen memerlukan adaptasi, terutama dalam mengawal fungsi penganggaran agar bisa menyentuh kebutuhan masyarakat di Ciamis, Banjar, Kuningan, dan Pangandaran.

​”Tugas saya nanti adalah memastikan anggaran bisa digelontorkan ke dapil, meskipun kita harus tetap kritis sebagai penyeimbang pemerintahan,” ujarnya merujuk pada konstelasi politik nasional.

​Di tengah sorotan publik terhadap integritas pejabat, Ida pun meminta doa agar tetap konsisten. Sebagai istri kepala daerah yang kini menduduki kursi legislatif, ia sadar betul bahwa pengawasan lembaga seperti KPK akan selalu melekat.

​”Saya ingin hidup sederhana dan menyederhanakan hidup. Target saya bukan soal mau jadi apa nanti, tapi bagaimana berbuat agar bermanfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.