Duo aktivis film Afghanistan Gulistan dan Elizabeth Mirzaei adalah produser dan sutradara yang kerap meliput kehidupan rakyat Afghanistan dalam film dokumenter pendek seperti “Farewell Kabul” (2014) dan “Laila at the Bridge” (2018).
Setelah mencoba menampilkan banyak cerita tentang konflik politik, pembunuhan seorang jurnalis internasional dan fenomena kecanduan heroin di Afghanistan, Gulistan dan Elizabeth Mirzaei memutuskan untuk mendokumentasikan kisah cinta pasangan muda yang penuh harapan di tengah situasi rumit dalam “Three Songs for Benazir ” (2021).

Merayakan kisah cinta dalam situasi sulit
“Three Songs for Benazir” berfokus pada pasangan muda yang tinggal di kamp pengungsi di Kabul, Afghanistan. Shaista dan Benazir adalah pasangan yang baru saja memulai sebuah keluarga dan akan dikaruniai seorang anak. Mereka sangat senang dengan sedikit harapan untuk masa depan.
Perjalanan film ini menunjukkan impian Shaista ingin membanggakan istrinya dengan menjadi Tentara Nasional Afghanistan. Namun, cita-cita mereka yang tinggi dirusak oleh kenyataan hidup yang sulit. Di lingkungan tempat tinggalnya, banyak ketakutan yang diselipkan, seperti ketakutan orang tua Shaista yang takut anaknya menjadi tentara, atau ancaman bom yang suatu saat bisa menghancurkan daerah tempat tinggalnya.
Namun film ini setidaknya bisa menggambarkan bagaimana kisah cinta anak muda yang diwakili Shaista dan Benazir bisa hidup dan tumbuh penuh harapan di tengah konflik perang di negaranya. Mereka berani mengambil resiko besar dan memilih bahagia dengan cara sederhana, berkeluarga, punya anak dan merajut mimpi besar di tengah harapan yang begitu kecil.
Film pendek dokumenter nominasi Oscar
Di antara sekian banyak tema sejarah Afghanistan yang bisa dijadikan film dokumenter, “Three Songs for Benazir” memilih fokus pada kisah cinta yang tumbuh di tengah konflik politik. Dijelaskan oleh sutradara Gulistan Mirzae, hubungan Shaista dan Benazir merupakan kisah yang pantas untuk diceritakan kepada dunia, karena kekuatan cinta tetap manis dan puitis meski tercipta di tengah kondisi sulit.
“Três Canções para Benazir” akhirnya berhasil menarik perhatian dunia dengan masuk nominasi kategori tersebut Dokumenter Terbaik (Subjek Pendek)) di Oscar 94. Kisah yang dihadirkan dalam film ini menjelaskan bahwa Afghanistan tidak hanya menghadirkan kisah perang dan kehancuran, tetapi juga bisa menjadi tempat orang-orang jatuh cinta.
Film Afghanistan dari Perspektif Afghanistan
Jika dilihat dalam konteks pembuatan filmnya, “Three Songs for Benazir” merupakan film dokumenter yang sangat personal bagi Gulistan dan Elizabeth Mirzaei. Mereka mengenal Shaista dan Benazir sejak lama, ketika mereka berdua adalah pekerja sosial, membagikan makanan kepada orang-orang yang tinggal di kamp.
Kegembiraan Benazir dan ketulusan Shaista membuat pasangan Gulistan dan Elizabeth Mirzaei terkesan dan mereka tampaknya telah menemukan kebahagiaan di hari-hari tersulit mereka di wilayah konflik perang.
Cerita tentang Afghanistan paling banyak muncul dalam film-film yang menggambarkan panasnya konflik, kekerasan militer atau cerita orang asing yang ingin menjadi pahlawan. Namun, dalam “Three Songs for Benazir” mereka ingin menawarkan perspektif lain tentang kehidupan di Afganistan melalui lensa dan suara warga Afganistan sendiri.
Pada akhirnya, “Três Canções para Benazir” adalah salah satu film dokumenter yang paling puitis dan mengharukan, baik karena sudut pandangnya yang tidak biasa maupun karena kesederhanaannya. Ada beberapa ironi yang mengesankan, misalnya tentang fenomena candu yang dianggap lumrah dan pandangan tentang kesulitan hidup yang terkesan wajar di sana.





