Dalam cerpen berjudul “2BR02B” karya Kurt Vonnegut, pengendalian penduduk pernah digambarkan begitu praktis hanya dengan mengacu pada undang-undang yang menyatakan bahwa:
“Seorang bayi hanya dapat hidup jika orang tuanya dapat menemukan seseorang yang bersedia mati secara sukarela.”
Jadi, jiwa yang hidup akan menggantikan jiwa lain yang akan dikorbankan.
“Rencana 75” (2022) sepintas sepertinya menyiratkan tema pengorbanan yang serupa. Film sci-fi karya Chie Hayakawa ini bercerita tentang negara Jepang dengan populasi lansia yang berlebih. Dengan permasalahan ini, mau tidak mau pemerintah harus menerapkan kebijakan yang sangat kontroversial, melalui program penawaran eutanasia bagi orang yang berusia di atas 75 tahun.
Program pemerintah menawarkan solusi tanpa empati
Skenario film “Plan 75” ditulis oleh Jason Gray dan Chie Hayakawa, mereka meluncurkan imajinasi mereka tentang bagaimana kehidupan di masa depan, ketika krisis demografis Jepang memunculkan kebijakan kontroversial, yang menurutnya dimiliki oleh orang tua berusia 75 tahun. kesempatan untuk mengakhiri hidup mereka dengan imbalan 100.000 yen, dapat digunakan untuk memuluskan proses setelah kematian mereka.
Solusi pragmatis ini dilibatkan secara sangat profesional melalui agensi yang mengelola program Plan 75. Himoru Okabe (Hayato Isomura) bertindak sebagai agen perekrutan yang menawarkan program Plan 75 untuk manula. Ia memasuki lingkaran pekerjaan yang akhirnya mengganggu rasa kemanusiaannya, dimana suatu hari pamannya sendiri, Yukio Okabe (Takao Taka) menjadi kliennya.
Michi Kakutani (Chieko Baisho) adalah wanita berusia 78 tahun yang lelah menjalani masa tuanya sendirian. Setelah dipecat dari tempat kerjanya, ia tidak dapat menemukan tempat tinggal karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Melihat temannya meninggal dengan sangat mengenaskan, Michi akhirnya memutuskan untuk mengikuti program Plan 75.
Chie Hayakawa menampilkan beberapa karakter muda seperti Himoru Okabe dan Maria (Stefanie Arianne), seorang perawat Filipina yang berusaha mendapatkan uang untuk merawat putranya yang sakit. Keterlibatan mereka dengan program Plano 75 membuka mata publik akan ironi yang terjadi, setidaknya sebuah sudut pandang yang menunjukkan bagaimana mereka sebagai manusia akhirnya menaruh perasaan negatif pada program pemerintah yang tidak menyadari keberadaan lansia. siapa yang harus dilindungi.
Krisis Demografi Jepang sebagai Skenario Sempurna
Jepang merupakan negara dengan angka harapan hidup yang sangat tinggi, berdasarkan “Japan Statistical Manual 2022” usia rata-rata adalah 85 tahun pada tahun 2020. Penduduk yang berusia 65 tahun ke atas juga mencapai 28,6% dari total 126,15 juta penduduk.
Surplus penduduk lansia berbanding terbalik dengan penurunan angka fertilitas, pada tahun 2021 populasi anak usia 0 sampai 14 tahun di Jepang hanya mencapai 11,8%. Ledakan jumlah lansia juga mempengaruhi kondisi ekonomi, dimana ada sebagian masyarakat yang melihat keberadaan lansia sebagai beban sosial, sehingga film “Plan 75” dapat dengan sangat gamblang menggambarkan krisis demografi yang sedang terjadi di Jepang.
Namun, solusi program Plan 75 cukup ekstrim. Orang tua hanya diberi harapan semu yang menawarkan kedamaian dalam menghadapi kematian, mereka diberi pandangan dangkal tentang orang tua yang seharusnya tidak mengganggu yang muda. Sedangkan orang seperti Michi, 78 tahun, masih punya banyak harapan untuk hidup. Dia masih bisa bermain dan bekerja, yang dia butuhkan adalah tempat yang aman untuk bertahan hidup dan pelayanan sosial yang memadai.
Pada akhirnya, “Plano 75” adalah film yang membuka perspektif baru tentang praktik sesat kebijakan. Euthanasia selamanya akan menjadi kontroversi dan perdebatan tentang masalah kemanusiaan. Negara membutuhkan cara lain yang lebih manusiawi untuk mengendalikan populasi manusia.
