Logistik Makan Bergizi Gratis di Tengah Arus Mudik: Skema Berubah ke Paket Berbuka
JAKARTA, SPC – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional memastikan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap berjalan selama bulan Ramadan dan masa libur Idul Fitri 1447 Hijriah atau April 2026 mendatang. Langkah ini diambil untuk menjaga konsistensi asupan nutrisi bagi para siswa, meskipun aktivitas belajar mengajar di sekolah mengalami penyesuaian.
Kepala Badan Gizi Nasional menyatakan bahwa skema penyaluran selama bulan puasa akan mengalami modifikasi waktu. Jika pada hari biasa makanan dibagikan pada siang hari, selama Ramadan paket makanan akan didistribusikan menjelang waktu berbuka puasa atau dalam bentuk paket sahur.
”Kami ingin memastikan bahwa target penurunan angka stunting dan peningkatan gizi anak tetap terjaga meski di luar jam sekolah reguler,” ujar sumber dalam keterangannya, Jumat, 20 Februari 2026.
Modifikasi Skema Penyaluran
Berdasarkan jadwal yang disusun, berikut adalah poin-poin krusial terkait teknis penyaluran MBG pada periode tersebut:
- Periode Ramadan: Penyaluran dialihkan menjadi paket berbuka puasa yang dikirimkan ke titik kumpul atau langsung ke kediaman siswa melalui koordinasi dengan perangkat desa dan sekolah.
- Libur Idul Fitri: Selama libur panjang Lebaran, pemerintah menyiapkan skema “Paket Gizi Keluarga” yang berisi bahan pangan pokok berprotein tinggi untuk menggantikan jatah harian yang biasanya dimasak di dapur satuan pelayanan.
- Pengawasan Mutu: Satuan Pelayanan Gizi di tiap daerah tetap beroperasi dengan jadwal piket khusus guna memastikan bahan makanan yang diterima masyarakat tetap segar dan layak konsumsi.
Tantangan Logistik di Masa Mudik
Tempo mencatat, tantangan terbesar dalam penyaluran MBG di bulan April 2026 adalah kepadatan arus mudik yang diprediksi mencapai puncaknya pada pertengahan bulan. Pemerintah mengklaim telah menggandeng pihak logistik lokal dan TNI/Polri untuk memastikan distribusi tidak terhambat kemacetan jalan raya.
Anggaran untuk periode khusus ini dilaporkan tidak mengalami pembengkakan karena menggunakan alokasi cadangan strategis yang sudah diplot sejak awal tahun anggaran 2026. Program ini diharapkan dapat menyasar lebih dari 15 juta anak sekolah di seluruh Indonesia pada fase awal ini.




