Limbo Review: Kisah Pengungsi Suriah Hidup Dalam Ketidakpastian di Skotlandia
“Limbo” (2020) adalah film drama komedi Inggris yang disutradarai oleh Ben Sharrock. Bercerita tentang Omar (Amir El-Masry), seorang pemuda dari Suriah yang melarikan diri ke Skotlandia karena perang. Tidak sendiri, ia singgah di sebuah pulau terpencil bersama pengungsi lainnya, Farhad (Vikash Bhai), Wasef (Ola Orebiyi) dan Abedi (Kwabena Ansah).
Mereka singgah di sebuah pulau terpencil dengan fasilitas terbatas. Menghabiskan waktu di rumah singgah untuk belajar bahasa Inggris dengan menonton “Friends”, mengikuti kelas etika dan budaya, serta menikmati barang-barang dari pusat donasi. Tidak dapat bekerja sebelum mendapatkan suaka, Omar hidup dalam ketidakpastian.
Drama yang masuk dalam Official Selection Festival Film Cannes 2020 ini akhirnya bisa diputar.mengalir di Netflix.

Ketika Pengungsi Menghadapi Ketidakpastian di Negeri Rakyat
Seperti judulnya, menonton film ini dari awal hingga akhir akan terasa seperti limbo. Memilih sudut pandang pengungsi untuk membahas topik ‘ketidakpastian’ adalah pilihan yang paling tepat. Isu ini masih relevan dengan situasi dunia saat ini, dengan peperangan di berbagai belahan dunia, atau kisah para imigran yang ingin hidup lebih baik dengan cara merantau.
“Limbo” berisi pembahasan tentang masalah sosial dan krisis kehidupan yang dianggap serius. Merupakan ciri khas komedi Inggris untuk menjalin cerita serius dengan materi lucu. eksentrik. Menit-menit pertama film bisa terkesan absurd dan mengintimidasi, terutama bagi mereka yang bukan penggemar film bergenre tersebut. eksentrik atau lebih sering kita menyebutnya sebagai rumah seni. Namun tak lama kemudian plot “Limbo” mulai terasa biasa saja. Film ini tidak terlalu absurd untuk dipahami.
Alih-alih absurd, film ini lebih tepat digambarkan sebagai karya bergaya surealis. Unsur realistiknya masih sangat terasa, dipadukan dengan rasa yang ‘aneh’ karena gaya komiknya. aneh. Film ini tidak ingin menyepelekan atau mendramatisir persoalan serius yang menjadi inti ceritanya, karena seperti itulah rasanya ketidakpastian; suam-suam kuku, jelas bukan posisi yang menyenangkan, tapi juga bukan posisi yang sangat menyedihkan atau genting.

Kisah Omar sebagai pengungsi yang merindukan keluarganya
Pengungsinya banyak, tapi plotnya lebih fokus pada karakter Omar. Omar meninggalkan kampung halamannya dan keluarga yang dicintainya karena perang. Dia adalah seorang musisi yang memainkan oud, alat musik tradisional Suriah. “Limbo” adalah film tipikal dengan narasi ‘tunjukkan, jangan katakan’. Mari kita pahami situasi Omar melalui beberapa rangkaian adegan. Mulai dari hubungannya dengan keluarganya, perkembangan interaksinya dengan pengungsi lain, hingga saat ia rindu kampung halaman.
Komedi terapan bukanlah materi komik yang akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak, namun cukup membuat film memiliki cita rasa yang unik, tidak sekedar kelam karena materi pelajaran yang begitu kelam. Ada banyak adegan yang menyentuh dan menggerakkan saya. Seperti ketika Omar secara berkala menelepon orang tuanya. Setiap sesi telepon juga menampilkan tidak hanya hubungan Omar dengan orang tuanya, tetapi juga perkembangan plot yang bisa kita ambil.
Maka kisah persahabatan Omar dengan Farhad ini menarik untuk diikuti. Interaksi mereka terkadang lucu, namun ada juga saat mereka berbagi rasa sakit seperti pengungsi yang menunggu kepastian. Setiap pengungsi yang tinggal serumah dengan Omar juga memiliki sejarah dan latar belakang masing-masing. Disajikan secara singkat dan padat, namun cukup membuat penonton terkesan hanya dengan mendengarkannya.
Sinematografi Versi abu-abu dari Ala Wes Anderson dalam gaya surealis
Sinematografi “Limbo” terlihat seperti lukisan surealis. Didominasi dengan pemandangan panorama Skotlandia di pulau terpencil. Jumlah penduduk yang minim, tiap bangunan memiliki jarak yang jauh, terasa sepi dan ‘tidak nyata’. Itu membuat kita merasa terisolasi, aneh, dan ingin tahu; apakah ada tempat seperti itu? Tapi tidak terlalu mengada-ada untuk menjadi kenyataan.
Ini terlihat seperti sinematografi khas Wes Anderson, yang didominasi oleh gambar diam DAN panorama yang simetris, hanya lebih gelap dan lebih abu-abu. Tampilan ini juga yang membuat film ini terasa limbo.
Secara keseluruhan, “Limbo” adalah film dengan aplikasi tematik yang konsisten. Dari plot, pengembangan karakter, sinematografi. Ini adalah film tentang limbo, tentang hidup dalam ketidakpastian yang suam-suam kuku. Ini bisa menjadi pertunjukan reflektif yang menetralisirnya dengan ketenangannya.
