Budidaya Perikanan di Kabupaten Pangandaran : Sebuah Refleksi Data

Budidaya Perikanan di Kabupaten Pangandaran : Sebuah Refleksi Data

Penulis : Rega Permana, S.Kel., M.S.

Kabupaten Pangandaran merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2012 dan merupakan salah satu Kabupaten termuda di Provinsi Jawa Barat.

Kondisi serta letak geografis dari Kabupaten Pangandaran yang didominasi oleh pantai menjadikannya salah satu destinasi wisata bahari di Jawa Barat. Garis Pantai Pangandaran yang membentang sepanjang 91 km memiliki karakteristik yang berbeda dan menawarkan beragam keistimewaan bagi para wisatawan.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung tentu berdampak pada beberapa bidang lain khususnya bidang ekonomi. Tahun 2018 Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pangandaran dari sektor pariwisata mencapai Rp 144 miliar.

Capaian ini naik tujuh kali lipat dibandingkan sebelum Pangandaran menjadi kabupaten mandiri, yaitu sebesar Rp 22 miliar. Hal ini merupakan bukti tingginya potensi kegiatan pariwisata yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi daerah.

Selain sebagai destinasi wisata alam, pantai-pantai yang ada di Kabupaten Pangandaran juga memiliki potensi sumber daya laut yang melimpah. Produksi ikan di Kabupaten Pangandaran selama tahun 2018 masih didominasi oleh hasil produksi ikan tangkap di laut menggambarkan potensi laut yang besar.

Komoditas hasil perikanan tangkap yang menjadi unggulan pun merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi, seperti udang, lobster, kakap merah, kakap putih, kerapu dan tuna. Dengan potensi ini, sebanyak 2.212 masyarakat Kabupaten Pangandaran bekerja sebagai nelayan, pedagang ikan, pengolah ikan maupun membuka rumah makan seafood.

Baca juga:  Rehabilitasi Terumbu Karang Menggunakan Media Raksagon

Namun secara umum, produksi perikanan Kabupaten Pangandaran masih tertinggal dibandingkan daerah lainnya di Jawa Barat. Terutama dalam sector budidaya perikanan.

Menurut data yang dipublikasikan oleh badan pusat statistic, nilai produksi perikanan budidaya khususnya dari jenis kegiatan kolam air tenang (Quiet Freshwater Pond) Kabupaten Pangandaran hanya 146 ton, atau paling rendah dibandingkan Kota maupun Kabupaten lainnya di Jawa Barat.

Padahal apabila ditinjau dari proporsi wilayahnya, Kabupaten Pangandaran yang memiliki luas kurang lebih 1.011 Km2 kalah jauh hampir 27 kali lipat dengan total produksi Kabupaten Bandung Barat yang memiliki selisish wilayah hanya sekitar 295 Km2.

Bahkan produksi perikanan di Kota Cimahi yang hanya memiliki wilayah sekitar 40,37 Km2 masih lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Pangandaran yaitu sekitar 277 ton.

Hal ini menunjukan bahwa potensi produksi perikanan di wilayah Kabupaten Pangandaran masih sangat potensial untuk terus dikembangkan.

Secara keseluruhan total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Pangandaran berjumlah 240 ton dengan nilai mencapai Rp. 9.857.418.000 yang didominasi oleh kolam air tenang sebanyak 146 ton, tambak semi intensif 46 ton, tambak intensif 47 ton dan jarring apung laut 1 ton.

Baca juga:  Mikroalga "Si Kecil" yang Berguna

Dapat terlihat bahwa meskipun Kabupaten Pangandaran terletak di wilayah pesisir dengan potensi pantai dan laut yang melimpah, pemanfaatan wilayahnya masih sangat minim ditandai dengan masih didominasinya kegiatan Budidaya di perairan darat.

Beberapa komoditas perikanan air tawar yang sampai saat ini menjadi unggulan di Kabupaten Pangandaran diantaranya adalah ikan nila, ikan gurame, ikan lele, ikan nilem, ikan mas, ikan tawes dan ikan mujaer.

Diantara komoditas tersebut, produksi tertinggi ada pada budidaya ikan nila yaitu sebesar 105,66 ton dengan nilai mencapai Rp. 2.687.353.000 diikuti dengan ikan lele sebesar 28,46 ton dengan nilai sekitar Rp. 421.758.000 pada tahun 2020. Kedua komoditas ini merupakan komoditas unggulan yang permintaannya di sekitar daerah Kabupaten Pangandaran cukup tinggi.

Jika dilihat dari wilayahnya, Kecamatan Cijulang dan Kecamatan Parigi merupakan daerah penghasil ikan nila paling tinggi yaitu sekitar 46,42 ton untuk kecamatan cijulang dan 27,35 ton untuk kecamatan Parigi. Sementara produksi ikan lele didominasi dari Kecamatan Pangandaran sebesar 8,95 ton dan Kecamatan Padaherang 8,72 ton.

Baca juga:  Konstelasi Politik Kampus

Untuk ikan gurame umumnya ditemukan lebih banyak di wilayah kecamatan cijulang yaitu sebanyak 1,45 ton dan kecamatan mangunjaya sebanyak 2,45 ton.

Nilai produksi perikanan budidaya yang masih relatif rendah di Kabupaten Pangandaran menunjukan bahwa kebutuhan pangan protein yang bersumber dari ikan di wilayah ini masih sangat bergantung pada hasil penangkapan di laut.

Padahal dengan munculnya berbagai issue mengenai laut seperti overfishing dan perubahan iklim, budidaya menjadi alternatif untuk tetap menjaga ketahanan pangan karena lebih dapat terkontrol prosesnya.

Permasalahan kesesuaian lahan untuk budidaya dan ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang dapat diatasi dengan penerapan teknologi berbasis riset dan ilmu pengetahuan.

Apalagi dengan hadirnya institusi perguruan tinggi yang fokus di bidang perikanan seperti Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran dan Program Studi Perikanan Kampus Pangandaran, Universitas Padjadjaran, permasalahan di bidang perikanan khususnya dalam optimalisasi potensi perikanan budidaya dapat teratasi secara terstruktur.

Penulis : Rega Permana, S.Kel., M.S.
(Dosen di Program Studi Perikanan K Pangandaran, FPIK Unpad)