Dua calon calon presiden, dan , belum juga menentukan calon calon duta presiden meskipun pendaftaran ke KPU tinggal tiga minggu lagi. Sejumlah pengamat menilai kebuntuan di tempat koalisi jadi penyebab belum ada pengumuman cawapres.
Sejauh ini, ada tiga poros menuju Pilpres 2024. Koalisi Prabowo Subianto meliputi Partai Gerindra, Partai Golkar, PAN, PBB, Partai Gelora, kemudian Partai Demokrat.
Koalisi Ganjar berisi PDIP, PPP, Partai Hanura, juga Partai Perindo. Adapun poros Anies terdiri dari Partai NasDem, PKB, kemudian PKS.
Dari tiga poros itu, baru Anies Baswedan yang memiliki cawapres. Dia menggandeng Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.
Adapun Prabowo baru sekadar dikaitkan dengan nama-nama seperti Erick Thohir, Khofifah Indar Parawansa, Yenny Wahid, Airlangga Hartarto, hingga Gibran Rakabuming Raka.
Sementara itu, Ganjar juga baru sebatas dipasang-pasangkan dengan nama-nama seperti Sandiaga Uno, Mahfud MD, Khofifah, lalu Andika Perkasa.
Di tengah kosongnya kursi cawapres Prabowo juga Ganjar, muncul isu peleburan poros. Ada isu yang menyebut gelaran pilpres nanti belaka diikuti dua kandidat presiden.
Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menilai wacana itu bisa jadi cuma terjadi. Dia melihat koalisi kemungkinan koalisi Anies melebur ke dua poros lainnya.
“Bisa tiga poros, bisa saja dua poros. Bisa semata nanti Pak Ganjar nanti bersaing dengan Pak Prabowo. Kalau misalkan PKB berubah pikiran, kan bisa jadi juga. Bisa juga tetap tiga poros,” ujar Djarot saat ditemui di tempat DPP PDIP, Jakarta, Senin (25/9).
Beberapa petinggi parpol lainnya ada yang mana meragukan pilpres dengan opsi dua poros. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan duet Ganjar-Prabowo dalam 2024.
“Tentu kita tak akan memaksakan diri, enggak mungkin dalam satu koalisi ada dua capres berarti bisa jadi maju dua-duanya,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman dalam Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (22/9).
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik FISIP UI Aditya Perdana menilai Prabowo lalu Ganjar belum mengumumkan cawapres sebab ada kebuntuan dalam koalisi masing-masing.
Dia berkata ada keinginan pada kalangan elite kebijakan pemerintah untuk menyederhanakan pilpres menjadi satu putaran. Namun, tidak ada ada sosok cawapres yang dimaksud dapat memproduksi capres langsung mendapat 50 persen plus satu kata-kata di tempat putaran pertama.
“Deadlock koalisi lantaran setiap calon perwakilan presiden yang dalam tiga poros ini enggak ada yang langsung menggerek, menaikkan, elektabilitas secara signifikan,” kata Aditya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (27/9).
Dia juga menduga ada pembicaraan kompensasi yang dimaksud belum selesai. Partai-partai belum bersepakat mengenai jatah kursi menteri jika capres yang mereka usung terpilih.
Di saat yang sama, ada wacana peleburan poros. Aditya menilai mungkin sekadar Ganjar dan juga Prabowo belum mengumumkan cawapres oleh sebab itu masih terbuka dengan opsi peleburan.
“Dari sisi koalisi yang digunakan terbentuk masih cair serta apa pun masih sanggup terbuka peluangnya untuk mampu mencalonkan lantaran memang prosesnya masih sekitar tiga minggu lagi (sebelum pendaftaran di area KPU),” ujarnya.
Sementara itu, peneliti kebijakan pemerintah Badan Riset serta Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Jati menyebut Prabowo kemudian Ganjar dalam posisi saling intip. Mereka masih mau melihat situasi sebelum menentukan cawapres.
Wasisto mengatakan elektabilitas Prabowo dan juga Ganjar di area beberapa survei masih bersaing. Dua poros itu tak mau salah langkah dengan mengumumkan cawapres sejak dini.
“Pola saling intip, salin menerka, menjadi hal yang bukan terelakkan. Posisi cawapres menjadi kartu As yang akan melengkapi kekurangan masing-masing figur,” ucap Wasisto saat dihubungi, Rabu.
Wasisto mengatakan situasi berbeda terjadi pada poros Anies. Anies perlu mengumumkan cawapres sedini mungkin untuk mendongkrak elektabilitas.
Dia melihat keputusan Anies lebih besar dulu mengumumkan cawapres mulai terlihat hasilnya. Survei Politika Research and Consulting (PRC) merekam 22,4 persen pemilih PKB mulai migrasi dari Prabowo ke Anies.
“Kalau dalam sisi lain seperti Ganjar serta Prabowo strategi elektoral beda. Ini yang dimaksud mungkin masih bernegosiasi formula yang digunakan tepat,” kata Wasisto.
“Saya melihat akan ditentukan pada menit akhir,” tambahnya.
Sumber: CNN Indonesia





