Kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi sorotan dunia karena jumlah kasus positif yang tercatat melonjak secara drastis di akhir bulan Juni lalu. Pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM darurat yang berlangsung mulai dari 3 juli hingga 20 Juli 2021. Namun karena jumlah kasus masih belum menunjukan penurunan akhirnya pemerintah menerapkan PPKM level 4 hingga 25 Juli dan diperpanjang kembali hingga 2 Agustus 2021.
Tingginya angka prevalensi kasus COVID-19 ini diduga disebabkan oleh masuknya varian virus baru yaitu delta, yang lebih ganas dan dapat menyebar dengan cepat. Hal ini tentunya membuat pemerintah dan semua pihak terkait melakukan upaya untuk menekan laju pertumbuhan angka kasus COVID-19 salah satunya dengan mempercepat program vaksinasi ke seluruh masyarakat.
Menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan imunitas merupakan cara lain yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat supaya tetap terjaga dari virus COVID-19. Konsumsi vitamin dan suplemen kesehatan menjadi incaran di masa pandemi ini. Salah satunya adalah vitamin c yang mampu meningkatkan imun tubuh kita berkat sifat antioksidannya yang dapat menangkal radikal bebas. Namun ternyata, sifat antiokasidan tidak hanya dapat diperoleh dari vitamin C.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Laboratorium Kelautan dan Perikanan Tropis, Program Studi Perikanan Kampus Pangandaran, PSDKU Universitas Padjadjaran mengungkapkan potensi antioksidan dari ekstrak daun mangrove, tumbuhan bakau yang banyak ditemukan di pesisir Indonesia termasuk Pangandaran.
Penelitian yang dilakukan di Kampus PSDKU Universitas Padjadjaran yang terletak di Desa Cintaratu ini melaporkan bahwa daun mangrove dari species Barringtonia asiatica (L.) Kurz memiliki kemampuan antioksidan terhadap radikal bebas. Dengan menggunakan pendekatan kimia, diketahui bahwa daun mangrove ini mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder yang berguna baik bagi kesehatan seperti tannin dan saponin.
Tannin merupakan senyawa polifenol yang diduga memberikan efek antiokasidan yang kuat pada daun mangrove ini. Studi lebih lanjut harus dilakukan untuk terus mengoptimalkan potensi mangrove ini. Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal internasional Asian Journal of Biochemistry, Genetics and Molecular Biology bulan Juli ini.
Kabupaten Pangandaran sendiri merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang memiliki tutupan hutan mangrove cukup besar khususnya di wilayah pantai selatan. Pangandaran memiliki dua kawasan hutan mangrove yaitu Mangrove Batukaras dan Bulaksetra. Selain itu kita dapat menemukan tumbuhan mangrove di area lain seperti Nusawiru, Bojongsalawe, Pamotan dan lain sebagainya.
Beberapa spesies yang kerap ditemukan di Kabupaten Pangandaran selain Barringtonia asiatica diantaranya gedangan (Aegiceras corniculatum), api-api (Avicennia marina, Avicennia alba), Tanjan Putih (Bruguiera gymnorhiza), tingi (Ceriops tagal), nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculate), pidada (Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris), jaruju (Acanthus ebrecteatus, Acanthus ilicifolius) dan tuba (Derris trifoliate).
Tepat di tanggal 26 Juli ini diperingati sebagai hari mangrove sedunia (World Mangrove day). Indonesia sendiri merupakan negara dengan keanekaragaman jenis mangrove terbanyak di dunia, yaitu sekitar 22% dari total hutan mangrove di dunia. Namun jumlah tutupannya semakin berkurang dari tahun ke tahun karena kerusakan habitat, alih fungsi lahan dan juga pencemaran. Padahal mangrove memiliki fungsi ekologi dan biologi yang penting bagi ekosistem pesisir selain menjaga ketahanan wilayah pesisir dari gelombang dan bencana lainnya.
Kini beberapa upaya pelestarian mangrove kerap dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat dan juga beberapa dikaitkan dengan inisiasi wisata alam (ecotourism) yang diharapkan dan menyeimbangkan potensi mangrove sebagai sumber mata pencaharian masyarakat.
Penelitian mengenai potensi aktivitas antioksidan dari jenis mangrove Barringtonia asiatica ini sekaligus memperingati hari mangrove sedunia tahun ini. Dengan menjaga mangrove kita, banyak manfaat yang dapat diperoleh selain dari keberadaannya yang membantu menopang kehidupan laut namun dari potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang contohnya adalah hasil penelitian ini.
Diharapkan dengan hadirnya PSDKU Unpad di Kabupaten Pangandaran, potensi wilayah pesisir Kabupaten Pangandaran dapat tergali lebih dalam oleh sumberdaya yang juga berasal dari pesisir selatan Jawa Barat ini.
Penulis
Rega Permana, S.Kel., MS.
Dosen di Program Studi Perikanan K Pangandaran, PSDKU Universitas Padjadjaran
Referensi:
Permana, R., & Andhikawati, A., (2021). Secondary Metabolites Identification and Antioxidant Activity Determinationof Crude Extractof Barringtonia asiatica l. (kurz) Leaves. Asian Journal of Biochemistry, Genetics and Molecular Biology, 8(3), 51-58.
Kuslani, H., & Sukamto, S. (2016). Teknik Pengamatan Vegetasi Mangrove Di Pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Buletin Teknik Litkayasa Sumber Daya dan Penangkapan, 13(2), 83-90.





