Dilema Helm Dan Nyawa Di Pangandaran
PANGANDARAN – Di bawah terik matahari yang menyengat aspal Kecamatan Kalipucang, Pangandaran, sekumpulan remaja tampak berkumpul. Bukan untuk tawuran atau balapan liar, melainkan untuk mendengarkan sebuah “khotbah” jalan raya. Di hadapan mereka, Kanit Kamsel Satlantas Polres Pangandaran, Aiptu Acep Yudi Heriyanto, berdiri tegap. Misinya sederhana namun berat: memastikan anak-anak muda ini pulang ke rumah dalam keadaan utuh.
”Keselamatan itu tanggung jawab pribadi yang harus dimulai dari kesadaran,” ujar Acep dengan nada bicara yang persuasif namun tegas, Kamis pekan ini.
Kegiatan bertajuk Dikmas Lantas (Pendidikan Masyarakat Lalu Lintas) ini bukan sekadar rutinitas seremoni kepolisian. Bagi Satlantas Polres Pangandaran, ini adalah upaya membendung statistik kecelakaan yang kerap melibatkan usia produktif. Di wilayah pesisir seperti Pangandaran, motor bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari gaya hidup remaja—yang sayangnya, sering kali mengabaikan aspek keselamatan.
Dalam pertemuan tersebut, Acep menyoroti hal-hal fundamental yang kerap dianggap remeh: penggunaan helm standar SNI dan kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM). Ia mengingatkan bahwa jalan raya tidak pernah ramah pada mereka yang abai. Etika dan sopan santun saat berkendara ditekankan bukan hanya untuk menghindari tilang, tapi untuk menjaga nyawa orang lain.
”Kami ingin mereka menjadi pelopor, bukan sekadar objek aturan,” tambah Acep. Ia berharap edukasi ini mampu menekan angka pelanggaran di wilayah Kalipucang, yang menjadi salah satu titik vital lalu lintas di Kabupaten Pangandaran.
Narasi besar yang ingin dibangun kepolisian setempat jelas: ketaatan berlalu lintas jangan hanya muncul saat melihat seragam polisi di persimpangan jalan. Namun, tantangan sesungguhnya ada pada budaya “nongkrong” dan euforia remaja yang sering kali membuat helm tertinggal di rumah, sementara gas motor dipacu maksimal.
Di ujung kegiatan, para remaja itu bubar dengan membawa “oleh-oleh” berupa pemahaman baru. Apakah pesan Acep akan terus diingat saat mereka memuntir gas motor di jalanan nanti? Waktu dan kedisiplinan mereka yang akan menjawabnya.
