China Kembangkan ‘Otak Pintar’ untuk Mesin Bor Terowongan, Mampu Prediksi Risiko Longsor
BEIJING – Sebuah terobosan teknologi konstruksi bawah tanah lahir dari kolaborasi akademisi dan industri di China. Tim peneliti dari Universitas Hunan bersama China Railway Construction Heavy Industry Co., Ltd., berhasil mengembangkan sistem operasi cerdas untuk mesin bor terowongan (Tunnel Boring Machine/TBM). Inovasi ini memberikan “otak pintar” bagi alat berat raksasa tersebut untuk bekerja lebih otonom dan aman.
Para peneliti mengungkapkan kepada Xinhua, Sabtu, 24 Januari 2026, bahwa sistem ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam industri konstruksi terowongan. Teknologi ini dirancang untuk memitigasi risiko geologis yang kerap menghantui proyek bawah tanah.
Mengatasi Keterbatasan Operator Manusia
TBM, yang sering dijuluki sebagai “naga baja”, merupakan peralatan vital untuk menggali lorong bawah tanah. Berbeda dengan mesin konstruksi di permukaan, TBM bekerja dalam kondisi buta, bersinggungan langsung dengan struktur batuan dan tanah yang tak terduga.
Dalam lingkungan geologis yang kompleks, operator manusia kerap kesulitan menyesuaikan pengaturan mesin secara presisi. Kesalahan fatal dalam pengaturan dapat memicu situasi berbahaya, mulai dari tanah longsor, penurunan muka tanah (amblasan) yang berlebihan, hingga hilangnya kendali mesin.
Untuk mengatasi tantangan ini, Profesor Chen Renpeng dari Universitas Hunan memimpin inisiatif riset untuk melatih mesin agar mampu “membaca” kondisi tanah, memprediksi risiko, dan melakukan penyesuaian teknis secara mandiri.
Penjaga Waktu Nyata
Anggota tim peneliti, Profesor Zhang Chao, menjelaskan bahwa sistem cerdas ini bertindak sebagai penjaga waktu nyata (real-time) selama konstruksi berlangsung. Sistem secara terus-menerus mengumpulkan data dari sensor TBM, menganalisis kondisi geologis, serta memprediksi potensi bahaya.
”Dengan ‘otak pintar’ ini, kami dapat secara akurat memprediksi penurunan tanah dan posisi mesin, sehingga membantu menghindari risiko seperti amblasan permukaan sebelum terjadi,” ujar Zhang Chao.
Sistem ini juga memberikan peringatan dini jika mesin berisiko terjebak dan mampu mengambil keputusan cerdas untuk memastikan pengeboran berjalan efisien.
Akurasi Tinggi di Shanghai dan Guangzhou
Efektivitas teknologi ini telah teruji di lapangan. Saat diterapkan pada TBM berdiameter sangat besar dalam proyek metro Shanghai, sistem ini mencatatkan akurasi pengambilan keputusan operasional lebih dari 90 persen.
”Sistem menjaga penyimpangan arah penggalian terowongan agar tidak lebih dari 30 milimeter, angka yang jauh melampaui presisi kontrol manual,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Sementara itu, dalam proyek di Guangzhou, China Selatan, penerapan sistem ini berhasil meningkatkan efisiensi diagnosis kerusakan sebesar 20 persen, mendongkrak pemanfaatan peralatan sebesar 12 persen, dan mempercepat kemajuan bulanan sebesar 5 persen.
Teknologi Kunci Infrastruktur Masa Depan
Perhimpunan Jalan Raya dan Transportasi China (China Highway and Transportation Society) telah menetapkan inovasi ini sebagai teknologi kunci untuk memajukan industri konstruksi.
Ke depan, tim pimpinan Chen berencana memperluas penerapan teknologi ini ke proyek-proyek yang lebih menantang. “Kami akan menyempurnakan teknologi ini untuk terowongan lintas sungai dan bawah laut, demi mendukung infrastruktur bawah tanah yang lebih aman dan pintar,” kata Chen.


