Merah Putih. dengan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa yang berpusat di kawasan Samudera Hindia selatan Yogyakarta terjadi pada Jumat (30/6), pukul 19.57 WIB.

Semula, BMKG mencatat gempa tersebut bermagnitudo 6,4 dan kedalaman 25 kilometer, kemudian kekuatannya diperbarui menjadi 6,0 magnitudo dengan kedalaman 67 kilometer.

Baca juga:

Jalur KA Cirebon dan Yogya Daop dinyatakan aman pascagempa Bantul

Gempa yang merusak tersebut memiliki skala intensitas IV hingga II yang dirasakan oleh warga yang tinggal di Bantul, Klaten, Banjarnegara, dan Bandung.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada 93 rumah dengan tingkat ringan hingga sedang di Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Dampak gempa tersebut merusak berbagai fasilitas umum seperti tempat ibadah, sekolah, pemerintahan, kesehatan dan jaringan listrik.

Kerusakan ringan pada fasilitas pemujaan dan jaringan listrik di Kebumen, Jawa Tengah.

Sedangkan di Yogyakarta, terdapat fasilitas sekolah dan lima fasilitas pemerintah yang rusak di Gunung Kidul, fasilitas pendidikan di Bantul, dan fasilitas kesehatan yang rusak di Kulon Progo.

Baca juga:  Fotografer ini Kasih Tips Epic Bikin Konten Konser Pakai Galaxy S23 Ultra 5G

Adapun kerusakan di Kabupaten Pacitan, dilaporkan hingga empat unit administrasi dan dua unit sekolah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan gempa yang berpusat di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu menjadi pengingat akan adanya zona subduksi aktif di wilayah selatan Pulau Jawa.

“Gempa malam ini merupakan wake up call yang mengingatkan kita bahwa zona subduksi di selatan Jawa masih aktif,” kata Daryono, Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG.

Daryono menjelaskan, zona subduksi aktif tidak hanya menimbulkan gempa, tapi juga tsunami yang melanda wilayah selatan Pulau Jawa. Catatan sejarah tsunami selatan Pulau Jawa terjadi sebanyak delapan kali dengan rincian pada tahun 1818, 1840, 1859, 1904, 1921, 1957, 1994 di Banyuwangi dan 2006 di Pangandaran.

“Ini menjadi catatan penting terkait potensi dan bahaya gempa dan tsunami di selatan Yogyakarta dan selatan Jawa pada umumnya,” kata Daryono.

Dikatakannya, Yogyakarta merupakan kawasan yang aktif secara sistemik dan kompleks karena memiliki potensi sumber gempa yang berasal dari darat dan laut.

Baca juga:  Koo Kien Keat Kritik Lee Zii Jia Yang Kehilangan Kepercayaan Diri

Dari laut terdapat zona subduksi yang berpotensi gempa mencapai magnitudo 8,7. Sedangkan di darat terdapat patahan kompak yang sangat aktif dengan magnitudo hingga 6,6.

“Kalau melihat sejarah sejak tahun 1800-an, zona megapressure di Yogyakarta telah memicu 12 kali gempa. Gempa terakhir terjadi pada 2 September 2009 dengan magnitudo 7,8 di selatan,” ujarnya. (Knu)

Baca juga:

Rumah dan jaringan listrik rusak akibat gempa di Bantul



Source link