Casey Stoner Sebut Honda dan Yamaha Dirugikan Oleh Peraturan Aerodinamika di MotoGP

Repsol Honda sudah berencana memasangkan Marc Marquez dengan Casey Stoner (Foto: MotoGP)
KAYU YANG BAGUS – Mantan bintang MotoGP Casey Stoner menyebut keterpurukan yang dialami Honda dan Yamaha di MotoGP bukan hanya kesalahan kedua tim pabrikan Jepang tersebut. Menurutnya, kedua merek tersebut dirugikan dengan penerapan regulasi aerodinamis karena lebih menguntungkan tim pabrikan Eropa.
Honda dan Yamaha telah mendominasi MotoGP selama lebih dari dua dekade. Tim berlogo sayap emas ini menjadi peraih gelar terbanyak kelas premier dengan torehan 21 gelar, sedangkan tim pabrikan Iwata berada di urutan kedua setelah MV Agusta dengan koleksi 18 gelar.
Honda terakhir memenangkan MotoGP 2019, yang mengakhiri enam gelar berturut-turut Marc Márquez bersama Repsol Honda. Sedangkan Yamaha berhasil menjadi yang terbaik musim 2021 bersama Fabio Quartararo di tim Monster Energy Yamaha.
Sayangnya, performa dua pabrikan legendaris Negeri Sakura itu cukup memprihatinkan di MotoGP. Honda berada di urutan keempat klasemen konstruktor dengan perolehan 89 poin di mana pebalap tim satelit LCR Honda menjadi pebalap terbaik mereka dengan 47 poin di posisi ke-13 di klasemen pebalap.
Sementara itu, Yamaha berada tepat di bawah Honda di klasemen konstruktor dengan menempati posisi terakhir dengan 82 poin. El Diablo -julukan Quartararo- menjadi pembalapnya yang paling mencuri perhatian dengan menempati posisi kesembilan klasemen dengan raihan 64 poin. Kesalahan pengembangan motor yang dilakukan kedua tim dinilai menjadi penyebab buruknya performa mereka di MotoGP.
Namun, Stoner punya pandangan berbeda. Bintang Australia itu menilai Honda dan Yamaha dirugikan dengan penerapan penggunaan aerodinamika di MotoGP yang menurutnya lebih menguntungkan pabrikan Eropa, yakni Ducati, KTM, dan Aprilia.


