PANGANDARAN – Harga jual gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Kabupaten Pangandaran turun drastis. Hal ini disebabkan minimnya permintaan pedagang luar daerah, sementara hasil panen padi musim tanam pada tahun ini melimpah.
Mutiah, seorang petani di Kecamatan Pangandaran, Selasa (9/3/2021) mengatakan harga GKP untuk harga normal, semula ditampung pedagang mencapai Rp5000 per kilogram, namun saat turun sebesar Rp1300 per kilogram sehingga menjadi Rp3700 per kilogram.
“Alhamdulillah, kalau hasil panen padi tahun ini bagus dan memuaskan. Hanya saja memasuki puncak panen raya harga gabah kering panen turun drastis sekitar Rp1300 per kilogram dalam dua pekan terakhir ini,” katanya.
Ia menilai turun harga gabah saat memasuki puncak panen raya padi pada 2021 di daerahnya karena disebabkan minimnya permintaan gabah di tengah pandemi COVID-19.
“Walaupun harga murah, terpaksa kami jual terus untuk keperluan biaya produksi. Lagi pula gabah baru dipanen dengan kondisinya itu masih basah. Tidak bisa disimpan. Harus dikeringkan lagi. Ini yang berat,” katanya.
Ia menjelaskan, proses menjemur gabah biasanya dilakukan petani secara manual di atas tikar dan terpal dengan proses pengeringannya membutuhkan waktu sekitar 3 hari untuk satu ton gabah.
“Meskipun harga murah, namun karena kebutuhan tetap harus terpenuhi, makanya kami menjual terus walaupun murah,” kata Mutiah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran Sutriaman membenarkan adanya penurunan harga jual gabah di Pangandaran. “Itu akibat panen berbarengan, jadi harga turun,” kata Sutriaman.
Sutriaman menjelaskan pihaknya sudah menyusun formulasi program untuk mengantisipasi kondisi yang terus berulang setiap musim panen itu. Caranya dengan mengintervensi peran kelompok lumbung padi.
“Ketika musim panen dan harga jual gabah turun, maka lumbung padi ini akan memberikan dana talang atau pinjaman kepada petani. Ketika harga sudah normal, baru gabah dijual,” kata Sutriaman.
Pinjaman yang diberikan lumbung padi itu hanya sebatas untuk kebutuhan mendesak yang dialami petani. Jaminannya cukup dengan menyimpan gabah di lumbung.
“Waktu untuk menunggu harga gabah kembali normal biasanya tak lama. Satu bulan juga sudah normal lagi,” kata Sutriaman.
Dia juga mengingatkan petani agar tak menerima sistem ijon dari tengkulak, sehingga petani tetap memiliki posisi tawar ketika panen.
Saat ini baru di kelompok lumbung pangan Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih Pangandaran yang sudah menerapkan konsep tersebut.
“Tahun ini sudah kami programkan untuk memperluas kelompok lumbung tersebut. Nanti kelompok ini akan diberi bantuan membangun gudang dan mesin pengering gabah. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan,” kata Sutriaman.***





