Indeks

Modus Pelaku Perdagangan Orang di Myanmar Janjikan Bekerja dengan Gaji Tinggi

MerahPutih.com – Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri mengungkap peran dua tersangka dalam kasus perdagangan manusia (TPPO) Myanmar.

Kedua tersangka diketahui adalah Andri Satria Nugraha dan Anita Setia Dewi.

Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigjen Djuhandhani Rahardjo mengatakan, kedua tersangka merekrut 16 warga negara Indonesia (WNI) yang ditempatkan dan dipekerjakan di Myanmar.

Baca juga:

Polisi menetapkan 2 tersangka kasus penyelundupan WNI ke Myanmar

Djuhanhani mengungkapkan, para pelaku menjanjikan pekerjaan bergaji tinggi dan fasilitas yang menggiurkan kepada para korban agar bisa direkrut.

Namun, mereka sebenarnya dipekerjakan oleh perusahaan. tipuan online (penipuan) milik warga negara China di Myanmar. Selain itu, mereka juga mendapatkan perlakuan yang tidak baik, terutama jika tidak mencapai tujuan.

“Apabila korban tidak mencapai tujuannya, akan dikenakan sanksi pemotongan gaji, termasuk tindakan dan kekerasan fisik berupa penjemuran, lompat jongkok dan lain-lain. Bahkan ada yang dipukuli, disetrum dan dipenjara”, tambahnya. di Bareskrim Polri, Selasa (16/5).

Berbagai cara dilakukan oleh pelaku tindak pidana perdagangan manusia untuk mengelabui petugas imigrasi di pelabuhan dan bandara saat memberangkatkan TKI nonprosedur.

Djuhandhani mengatakan, kedua tersangka TPPO 25 WNI ke Myanmar itu menggunakan modus keberangkatan korban secara terpisah, dengan jumlah yang sedikit agar tidak menjadi tersangka, dan pada tanggal yang berbeda. Akibatnya, korban menjadi korban eksploitasi di luar negeri.

“Awalnya ada yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta (Soetta) langsung ke Bangkok, ada yang lewat pintu gerbang Malaysia lalu ke Bangkok, lalu ada yang didatangkan sampingan, tidak melalui proses yang benar menuju Myanmar,” kata Djuhadhani. .

Baca juga:

Delegasi KTT ASEAN Sebut Kekuatan Junta Militer Myanmar Pernah Tergerus

Para pelaku memberangkatkan korban sejak 25 September 2022, seorang dari Batam menuju Johor, Malaysia menggunakan kapal laut, kemudian menuju Hatyai, Thailand.

Korban Hatyai dibawa ke Bangkok, dan korban dari Bangkok dibawa ke Myawaddy, Myanmar.

Kemudian, pada 8 Oktober 2022, 1 orang akan berangkat dari Bandara Soetta menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Korban Malaysia dibawa ke Hatyai dan dari Hatyai ke Bangkok, dari Bangkok ke Myawaddy.

Kemudian dua orang lagi berangkat dari Bandara Soetta pada 16 Oktober, dua orang lagi pada 22 Oktober, kemudian pada 23 Oktober, 6 November, dan 27 November masing-masing tiga orang.

Djuhandhani mengatakan, setelah korban TPPO meninggalkan Indonesia, mereka diselamatkan oleh orang-orang yang menunggu di Bangkok dan Myanmar.

“Ini salah satu cara untuk mengelabui petugas di lapangan, baik Imigrasi maupun petugas lainnya,” ujarnya.

Saat ini, korban perdagangan manusia Indonesia di Myanmar bekerja sebagai penipuan daring, mereka mengalami pengurungan. Korban dievakuasi dari Myawaddy, Myanmar pada 5 Mei.

Kini mereka semua berada di Bangkok, Thailand, dan sedang dipulangkan dari Indonesia.

Rencananya mereka semua akan kembali ke Indonesia minggu depan, 23 Mei 2023. (Knu)

Baca juga:

Ridwan Kamil menemukan solusi untuk memulangkan 12 warga Jabar korban TPPO di Myanmar



Source link

Exit mobile version