OPINI – Ada yang hilang ketika sebuah doa yang ditarikan harus tunduk pada durasi. Di panggung-panggung megah hotel berbintang atau festival pariwisata massal di Pangandaran, Ronggeng Gunung kini kerap tampil “bersolek”. Kostumnya kian gemerlap, durasinya dipangkas demi efisiensi waktu, dan cengkok beluk yang menyayat sering kali kalah riuh oleh tepuk tangan penonton yang hanya mengejar eksotika visual.

​Di sinilah letak dilemanya: apakah kita sedang melestarikan budaya, atau sekadar menjual komoditas rasa?

​Komodifikasi yang Menumpulkan Makna

​Ronggeng Gunung pada hakikatnya adalah kesenian buhun yang lahir dari rahim kedukaan dan ritual syukur. Kehadirannya di tengah masyarakat agraris dan pesisir bukan sebagai tontonan, melainkan tuntunan.

  • Pola Lingkaran yang Terkikis: Dalam pakem aslinya, interaksi antara Ronggeng dan Nayak (penari pria) adalah ruang sakral perlindungan dan kebersamaan. Dalam format wisata, ruang ini sering kali berubah menjadi panggung terbuka yang kehilangan keintiman magisnya.
  • Desakralisasi Kidung: Lagu-lagu yang dibawakan adalah narasi luka Siti Samboja. Namun, di bawah lampu panggung pariwisata, kedalaman lirik ini sering kali dianggap sebagai “latar belakang” musik belaka, tanpa pemaknaan atas pesan moral yang terkandung di dalamnya.

​Ancaman “Budaya Instan”

​Risiko terbesar dari pariwisata massal adalah munculnya generasi penari yang hanya mampu meniru gerak tanpa memahami rasa. Menjadi seorang Ronggeng bukan sekadar perkara lentur jemari, melainkan ketahanan vokal dan penghayatan akan sejarah.

  • ​Jika tuntutan industri hanya menginginkan tarian berdurasi 10 menit, maka kedalaman beluk yang membutuhkan waktu panjang untuk meresap ke sanubari penonton akan perlahan sirna.
  • ​Budaya instan ini akan melahirkan “kulit” tanpa “isi”, di mana Ronggeng Gunung hanya akan diingat sebagai tari sambutan tamu, bukan lagi sebagai jembatan spiritualitas masyarakat Priangan Timur.

​Jalan Tengah: Pariwisata Berbasis Kebudayaan, Bukan Sebaliknya

​Pangandaran harus belajar bahwa daya tarik utama sebuah daerah adalah keasliannya (authenticity). Wisatawan masa kini justru mencari pengalaman yang jujur, bukan pertunjukan yang telah dimodifikasi secara berlebihan.

  • ​Pemerintah dan pelaku industri perlu memberikan ruang bagi Ronggeng Gunung untuk tampil dalam format aslinya di kantong-kantong budaya, tanpa harus selalu diseret ke panggung-panggung seremonial.
  • ​Hanya dengan menjaga kemurniannya, Ronggeng Gunung akan tetap memiliki “nyawa” yang membuatnya berbeda dari sekadar tari hiburan biasa.

​Menjaga marwah Ronggeng Gunung berarti berani mengatakan tidak pada penyederhanaan makna demi sekadar angka kunjungan wisata. Karena pada akhirnya, kebudayaan yang luhur adalah yang mampu bertahan di tengah arus, bukan yang lumat karena mengikuti selera pasar.