SEPUTARPANGANDARAN.COM – Bakso adalah makanan khas indonesia yang digemari banyak orang, berbahan baku daging, tepung tapioka, garam, bahan pengikat seperti STPP (Sodium Tripolyphosphat) dan bumbu (Sari dan Widjanarko 2015).
Bakso biasanya terdiri dari berbagai macam bumbu serta bahan utama yang biasa digunakannya yaitu daging giling. Daging yang digunakan bisa daging sapi, daging babi dan juga daging ikan.
Pada dasarnya yang biasa digunakan dalam pembuatan bakso ikan yaitu daging ikan tuna ataupun tenggiri. Namun di Pangandaran sendiri kebanyakanterbuat dari daging ikan tuna.
Kandungan gizi pada bakso ikan lebih unggul dibandingkan bakso daging sapi, bakso ikan mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan bakso daging sapi.
Ikan tuna memiliki kandungan protein sebesar 24% yang merupakan kandungan rotein tertinggi dibandingkan dengan ikan tenggiri.
Kandungan Omega 3 dari ikan tongkol lebih tinggi dibandingkan ikan air tawar, Omega 3 dapat bermanfaat dalam menetralkan kelebihan kolesterol didalam tubuh manusia (Azzza et. al 2015).
Berdasarkan analisis nilai tambah pada pembuatan bakso ikan tuna, keuntungan yang didapat dalam satu kali produksi yaitu sebesar Rp.16.173 perKg dengan rasio nilai tambah sebesar 53,91%.
Besarnya nilai tambah yang didapatkan pada hasil perhitungan sejalan dengan besarnya rasio nilai tambah terhadap nilai output-nya (Farilanda et. al 2018).
Karena rasanya yang gurih, kenyal dan enak, membuat bakso ikan ini cukup terkenal diberbagai kalangan, mulai dari dewasa, remaja, hingga kanak – kanak.
Apalagi bila dilakukan diversifikasi produk seperti memberi sedikit warna yang berbeda pada bakso ikan, contohnya bakso ikan rainbow sehingga dapat menarik konsumen teruatma anak – anak yang cenderung gampang tergiur apalagi dengan rupa olahan yang menarik.
Pewarna yang digunakan tentunya pewarna alami, bisa dari sayur dan buah buahan, sehingga tidak mengurangi nilai gizi justru menambah gizi yang lainnya.
Kebanyakan dalam pemasarannya, untuk di pangandran sendiri bakso ikan ini dipasarkan oleh pedagang keliling, adapun beberapa bakso ikan yang dijual dalam bentuk frozen food biasanya banyak dijual di pasar tradisional maupun mini market.
Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, untuk lebih mudah pemasarannya dan lebih efisien dapat dilaukan dengan cara menjual secara online, sehingga pembeli tidak harus repot- repot pergi keluar rumah.
Penulis :

Anggita Hayu Pangastuti
(Mahasiswa Perikanan Unpad)

Prof. Junianto S.Pi M.Si
(Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad)
Aulia Andhikawati S.Pi M.Si
(Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad)
Referensi :
Azzza, T. Affandi, D. R. dan Manuhara, G. J. (2015). Bakso Ikan Tongkol (Eutynnus affnis) dengan Filler Tepung Gembili Sebagai Fortifikan Inulin. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 77 – 83.
Farilanda, Yusuf, S. dan Riani, I. (2018). Analisis Nilai Tambah dan Keuntungan Usaha Bakso Ikan Tuna di Kecamatan Kendari Barat (Studi Kasus Kelompok Usaha Cahaya Nur). Sosial Ekonomi Perikanan FPIK UHO, 184 – 195.
Sari, H. A. dan Widjanarko, S. B. (2015). Karakteristik Kimia Bakso Sapi (Kajian Proporsi Tepung Tapioka: Tepung Porang dan Penambahan NaCl). Jurnal Pangan dan Agroindustri , 784-792.





