Dansa Robot di Negeri Tirai Bambu
Di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Zibo, Provinsi Shandong, kerumunan pengunjung tak lagi sekadar berburu diskon. Mereka terpaku pada sekelompok penari yang melakukan putaran dan lompatan dengan presisi tinggi. Bukan atlet profesional, melainkan robot humanoid dengan algoritma kecerdasan berwujud (embodied intelligence) yang baru saja memulai debut komersialnya.
Pemandangan di Zibo ini menandai pergeseran besar dalam lanskap industri China. Robot, yang selama puluhan tahun identik dengan lengan besi kaku di lini perakitan otomotif, kini mulai “berkulit” dan masuk ke ruang-ruang privat manusia.
Etalase Masa Depan di Kota Jinan
Tren ini tak sekadar gimik pertunjukan. Di “Future Robot 6S Center”, Kota Jinan, hampir 50 perusahaan robotika memamerkan taji. Tempat ini berfungsi layaknya toko serba ada premium, namun alih-alih menjual pakaian, mereka menjajakan solusi masa depan.
Mulai dari robot rumah tangga ringkas seharga 2.000 yuan (sekitar Rp4,8 juta) hingga model humanoid kelas atas yang mampu berperan sebagai resepsionis, pemandu wisata, hingga petugas pembersih. “Pusat ini menawarkan sistem survei, suku cadang, hingga pelatihan,” ujar Wei Ziyao, kepala pusat tersebut. Dalam dua bulan sejak dibuka, pusat ini telah meraup pendapatan hampir 2 juta yuan—sebuah sinyal kuat akan dahsyatnya selera pasar.
Balapan Algoritma dan Produksi Massal
Di balik gerakan halus para robot, ada perang algoritma yang tak kasat mata. Di laboratorium Shandong Youbaote Intelligent Robot Co., Ltd., para insinyur bekerja lembur menguji gerakan berjalan dan berlari. “Peningkatan kecil sekalipun mencerminkan putaran baru iterasi algoritmik,” kata Liu Gong, direktur teknis perusahaan tersebut.
Optimisme ini bukan tanpa dasar. Data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China menunjukkan ledakan kuantitas: lebih dari 140 produsen dengan 330 model robot humanoid telah lahir hingga 2025. Output robot layanan bahkan menembus 13,5 juta unit pada tiga kuartal pertama 2025, melampaui rekor tahun sebelumnya.
Menuju Pasar 77 Miliar Dolar
Profesor Fang Bin dari Universitas Pos dan Telekomunikasi Beijing menilai China telah merangsek ke “tingkat pertama” global dalam hal kapasitas produksi massal dan efisiensi biaya. Menurutnya, pendorong pertumbuhan industri kini telah bergeser. “Dari sekadar keunggulan rantai pasokan menjadi kemampuan mendefinisikan skenario penggunaan,” ujarnya.
Angka-angka pun berbicara lebih lantang. International Data Corporation (IDC) memproyeksikan pengeluaran konsumen untuk robot kecerdasan berwujud di China akan melonjak dari 1,4 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 77 miliar dolar AS pada 2030. Sebuah pertumbuhan eksponensial sebesar 94 persen per tahun.
Langkah ini sejalan dengan ambisi politik Beijing. Rencana Lima Tahun ke-15 yang dirilis Oktober 2025 lalu secara eksplisit menyerukan adopsi teknologi baru untuk merangsang konsumsi domestik. Kini, robot humanoid bukan lagi sekadar mimpi fiksi ilmiah di layar perak, melainkan motor penggerak ekonomi baru yang siap melayani di depan pintu rumah.


