Belajar di rumah selama satu tahun lebih di tengah pandemi covid-19 merupakan landasan penting untuk mengetahui sejauh mana anak kita dapat menguasai pembelajaran.
Hak belajar anak di rumah tetap harus jadi prioritas utama dalam mengembangkan proses belajarnya dan tentu dalam meraih cita-citanya di masa depan.
Peran orang tua di masa pembelajaran daring seringkali disalah artikan. Seyogyanya diperlukan satu persepsi yang sama antara sekolah, guru, orang tua, dan siswa. Kendala pembelajaran tentu sangat multiprespektif.
Maka dari itu, pembelajaran daring harus diupayakan oleh sekolah, guru, dan orang tua bermufakat untuk mengelola belajar anak agar mendapatkan capaian belajar yang maksimal.
Hasil laporan dari KPAI dan beberapa lembaga yang berfokus pada pendidikan menyatakan tentang kurangnya akses siswa terhadap buku belajar, sumber belajar sangat mengkhawatirkan, sehingga terjadi kehilangan motivasi belajar.
Sejalan dengan hal itu, proses belajar di rumah dapat kita identifikasi apakah anak dapat menggunakan sumber belajar dengan baik? Bagaimanakah anak memperoleh sumber belajar untuk kebutuhan belajarnya?
Kesulitan-kesulitan belajar anak bukan berarti dititikberatkan pada satu hal, namun solusi untuk belajarnya dapat diberikan.
Peran orang tua dalam mendampingi anak belajar di sekolah dasar berbeda dengan anak belajar di sekolah menengah. Walaupun di tingkat dasar dan menengah menjadi perhatian bersama mendampingi anak belajar.
Langkah untuk menghadapi kesulitan belajar anak dapat digunakan dengan penggunaan media. Buku-buku sebagai sumber belajar sangat penting untuk memberikan pengetahuan mendalam kepada anak.
Buku dalam bentuk media digital masih perlu disosialisasikan. Buku digital sejatinya penting untuk mendampingi anak dalam belajar di rumah. Hanya saja buku digital jarang diperhatikan dan bahkan belum mendapatkan space di gawai masing-masing di rumah.
Kecenderungannya justru lebih memilih aplikasi-aplikasi marketplace atau game online yang lebih banyak perhatiannya. Aplikasi marketplace diperuntukan untuk membeli barang-barang dari rumah. Sementara game online masih lebih banyak diunduh.
Maka dari itu, pemanfaatan buku digital harus segera dirilis dengan masif. Setiap orang tua dapat mendampinginya. KemendikbudRistek melalui laman budi.kemdikbud.go.id.
Dari laman tersebut KemendikbudRistek memberikan keleluasaan kepada pelajar maupun masyarakat umu memanfaatkan buku digital yang telah disediakan.
Layanan buku digital diharapkan dapat meningkatkan bahan bacaan literasi. Bahan bacaan yang disediakan sangat cocok untuk PAUD, SD, SMP, SMA, dan umum.
Pemanfaatan bahan bacaan berbasis digital ini menjadikan orang tua dapat memberikan pendampingan yang tepat. Anak bisa memilih buku bacaan yang sesuai dengan usianya.
Koleksi bacaan yang disediakan cukup beragam. Tema buku di antaranya tentang alam dan lingkungan, cerita rakyat, ekonomi kreatif, hewan dan tumbuhan, kebencanaan, keberagaman, kesehatan, kuliner, petualangan, seni dan budaya, tokoh Indonesia, dan transportasi.
Semangat belajar anak akan senantiasa bersama bacaan literasi melalui buku digital. Sebab buku digital yang direkomendasikan akan lebih bermanfaat dan bermakna ketika membaca lebih menyenangkan.
Para orang tua seyogyanya saat pendampingan belajar dapat mengarahkan kepada anak untuk membuka laman buku digital Kemendikbud. Kemudian bisa memilih tema yang sesuai kebutuhan.
Semoga dengan memanfaatkan buku digital selama belajar di rumah, anak lebih senang dalam belajar, motivasi belajarnya meningkat. Segera para orang tua bisa menyediakan waktu untuk mendampingi anak dengan membaca buku digital. Harapannya agar anak-anak tidak kehilangan semangat belajarnya. (*)
Penulis:

Muh. Husen Arifin
Dosen Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru dan Mahasiswa S3 Pendidikan IPS Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, kini tinggal di Kabupaten Pangandaran





