MerahPutih.com – Sejumlah warga Kampung Nelayan Clincing, Jakarta mengadukan keberadaan alat berat proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau TPA laut di kawasan itu, Rabu (29/3) malam.

Truk yang membawa buldoser terpaksa berhenti karena warga menolak melintasi perbatasan. Sempat terjadi perselisihan antara warga dan kontraktor. Saat ini, ada dua mobil excavator.

Namun setelah dimediasi oleh Kepolisian Sektor (Polsek), kedua belah pihak sepakat untuk melakukan pembicaraan sebelum kedatangan alat berat tersebut.

Baca juga:

Proyek tembok raksasa berlanjut bahkan saat ibu kota bergerak

“Respon warga negatif. Karena tuntutan warga butuh kepastian dari pemerintah. Karena pembangunan ini (NCICD) akan berdampak pada warga Clincing,” kata Anggota Aliansi Komunitas Clincing Jeni Alpiani dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis ( 3/30).

Jeni menjelaskan, kedatangan alat berat dari proyek NCICD ini bukan kali pertama. Awalnya warga dibuat kaget dengan kehadiran alat berat pada pukul 01.00 WIB dan 17.00 WIB pada 18 Maret 2023.

Saat itu, warga juga menolak kehadiran alat berat dengan alasan tidak ada tindak lanjut dialog setelah sosialisasi pertama pada 7 Februari 2023 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Baca juga:  Erdogan dan Zelenskyy Bahas Keberlanjutan Ekspor Pangan di Laut Hitam

Dikatakannya, warga kampung nelayan tersebut sangat mendukung pembangunan NCICD di wilayahnya. Namun demikian, bukan berarti pemerintah atau swasta dan kontraktor dapat seenaknya memulai kegiatan pembangunan tanpa mengajak dialog masyarakat.

Jeni menuturkan, sebelum melakukan pembangunan, warga diminta untuk diajak bicara terlebih dahulu mengenai dampak yang terjadi dengan dibangunnya NCICD.

“Jadi kita ingin dialog dan kesepakatan bersama dulu dampaknya, lalu hak apa yang diinginkan warga selama proses pembangunan,” ujarnya.

Baca juga:

Pemprov DKI Kembangkan Konsep Seawall Pesisir Jakarta Atasi Banjir ROB

Warga meminta, selama proses pembangunan, pemerintah merelokasi jangkar atau tempat bongkar muat kapal nelayan untuk memasok ikan. Kemudian arus lalu lintas nelayan terbentuk selama proses konstruksi.

Selain itu juga dibangun tambatan permanen pasca konstruksi, karena saat ini terdapat 32 titik bongkar muat di sepanjang aliran Sungai Cakung di desa Clincing Nelayan.

Selanjutnya, biaya kompensasi rumah atau bangunan bagi warga yang terkena dampak pembangunan proyek.

“Ekosistem Desa Clincing Nelayan akan terus diamankan dalam bentuk dukungan pemerintah kepada warga kami,” tegasnya.

Baca juga:  Ratusan Napi Jakarta Bebas Keluar Penjara Saat Lebaran

Pada Selasa (28/3), Aliansi Masyarakat Clincing juga menyurati Kementerian PUPR, Pemprov DKI, Walikota Jakarta Utara dan Camat Clincing tentang harapan dan keinginan warga dengan hadirnya proyek NCICD ini.

“Kami berharap ada dialog terlebih dahulu dan menampung aspirasi kami sebelum pembangunan proyek NCICD”, pungkasnya.

NCICD adalah proyek pembangunan tembok laut untuk mengatasi kenaikan permukaan air laut di Teluk Jakarta.

Pembangunan NCICD merupakan gagasan pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia untuk menangkal ancaman banjir dari laut ke daratan Jakarta. (asp)

Baca juga:

Senin Rusak, Perbaikan Seawall Pelabuhan Semarang Belum Selesai



Source link