
BANYAK sebagian dari kita masih asing dengan istilah tersebut asap cair atau asap cair dan mungkin berkorelasi dengan Rokok elektronik. Sedangkan asap cair, seperti namanya, adalah cairan kental dari proses pengasapan kayu dan biasanya digunakan sebagai penambah rasa pada masakan yang membutuhkan aroma kayu bakar, seperti barbeque atau daging sapi.
Selain itu, asap cair dalam dunia kuliner juga banyak digunakan untuk proses pengawetan daging. Menariknya, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya melakukan inovasi penelitian dengan menggunakan asap cair yang akhirnya digunakan sebagai obat terapi kandidiasis.
Sebenarnya, inovasi ini bukan hal baru bagi perguruan tinggi negeri di Kota Pahlawan. Pada tahun 2019, Unair mulai mengkaji asap cair seperti apa, melakukan uji coba dengan asap cair dalam pengobatan hewan penderita sariawan dan diabetes. Kondisi ini tentunya mempersulit proses penyembuhan dan disinilah proses percobaan dilakukan.
Eksperimen pada tahun 2019 dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu menggunakan asap cair dari tempurung kelapa dan yang lainnya adalah obat kumur analgesik yang mengandung benzydamine hcl.
Dari penelitian ini diketahui bahwa kandungan kolagen pada hewan yang diberi asap cair lebih tinggi, yang berarti proses pembentukan jaringan pada area cold sore lebih baik dibandingkan dengan obat kumur.
Namun setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, tim peneliti Universitas Airlangga menemukan bahwa asap cair memiliki kelemahan yaitu waktu kontak yang lebih singkat pada sariawan dengan tingkat penyerapan yang rendah.
Dari sinilah ketua tim peneliti Prof. dr. Diah Savitri Ernawati drg., M.Sc., SpPM, dan timnya memutuskan kembali ke lab untuk memodifikasi asap cair dari segi bentuk fisiknya agar dapat digunakan lebih optimal untuk terapi penyakit kandidiasis atau dikenal dengan oral bisul.
“Kami berinovasi untuk meningkatkan fiksasi dan penyerapan asap cair dari tempurung kelapa pada luka sariawan. Salah satu strategi yang kami gunakan adalah menggabungkan asap cair tempurung kelapa dengan bahan mukoadhesif yaitu HPMC dan gelatine,” ujar Prof. Diah seperti dikutip Unair.ac.id (15/2).
Dari kombinasi tersebut, peneliti berhasil membuat lapisan tipis rongga mulut dengan ketebalan 35 hingga 50 mm dan mampu menyerap air hingga lebih dari 50% serta mengeluarkan obat lebih cepat di area sariawan.
Hal ini terbukti dari pengujian pada hewan percobaan. Meski begitu, tambah Profesor Diah, pihaknya masih perlu melakukan tes dan penelitian lebih lanjut agar ke depannya bisa digunakan untuk aplikasi klinis pada pasien. (aru)





