Tertinggi di Asia Pasifik, Kesadaran Konsumen Indonesia Terkait Penggunaan Data oleh Brand
BOCOR Data siber biasanya terjadi di Indonesia. Sepanjang tahun 2022, terdapat 10 kebocoran big data di Indonesia dari berbagai institusi swasta dan pemerintah.
Kebocoran data menyebabkan kerugian. Meski begitu, masyarakat Indonesia masih percaya dengan brand yang menggunakan data siber.
“Across Asia-Pasifik (APAC), masyarakat Indonesia memiliki tingkat kesadaran tertinggi dalam penggunaan data konsumen oleh tanda,” membaca siaran pers dari Twilio, platform keterlibatan pelanggan yang menciptakan pengalaman waktu sebenarnya dan disesuaikan untuk tanda yang paling menonjol hari ini, yang diunggah ke Merahputih.com (8/6).
“Saat ini, konsumen berharap tanda akan melindungi data Anda dan terbuka tentang penggunaannya,” kata Nicholas Kontopoulos, wakil presiden pemasaran untuk Asia Pasifik dan Jepang.
Skeptisisme terhadap data pihak ketiga, serta keinginan untuk berbagi data dengan merek tepercaya, mendorong terciptanya peluang baru dan membuka jalan bagi ekosistem berbagi data yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia dan Asia Pasifik.
Studi terbaru oleh Twilio (NYSE: TWLO) berjudul “Revolusi Data Konsumen Asia-Pasifik” menunjukkan bahwa 68% konsumen di Indonesia memiliki setidaknya beberapa tingkat kesadaran tentang bagaimana merek menggunakan data konsumen.
Sekitar 34% dari mereka mengaku memiliki pengetahuan penuh tentang bagaimana informasi atau data digunakan oleh merek tersebut.
“Ternyata konsumen Indonesia juga memiliki tingkat kenyamanan yang relatif tinggi dalam berbagi data pribadi dengan brand, asalkan ada jaminan transparansi dan personalisasi. Mengingat, mayoritas konsumen Indonesia menghargai interaksi yang dipersonalisasi,” hasil Twilio menulis Siaran pers.
Baca juga:
Kiat untuk mengenali dan melindungi data pribadi
Twilio mengeksplorasi preferensi, sikap, dan harapan konsumen seputar berbagi data dan menyoroti peluang untuk merek untuk membangun kepercayaan konsumen di masa depan yang bebas cookie. Laporan ini menganalisis temuan dari total 1.500 konsumen di kawasan Asia-Pasifik dari Singapura, Hong Kong, Australia, Filipina, Jepang, dan 250 responden dari Indonesia.
Responden di kawasan Asia-Pasifik cenderung menilai pengalaman yang baik dan kebijakan yang transparan sebagai dua faktor terpenting yang mendorong pembagian data. Artinya, praktik pengumpulan data pihak pertama sangat penting untuk membangun hubungan pelanggan yang lebih dalam.
Temuan lain menunjukkan sikap skeptis terhadap penggunaan data pihak ketiga dan keinginan umum konsumen untuk berbagi data tanda dapat diandalkan dalam situasi yang tepat.
Secara regional, lebih dari 6 dari 10 konsumen bersedia berinteraksi merek yang mendapatkan data langsung dari mereka. Hingga 89% konsumen di Indonesia percaya bahwa mempersonalisasi interaksi dengan merek akan menambah nilai pengalaman pelanggan. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik.
Di Indonesia, 52% pelanggan menyatakan tidak keberatan untuk mengungkapkan data demografis. Sementara itu, 49% bersedia membagikan data riwayat pembelian.
Situs web resmi dan akun media sosial adalah dua saluran yang paling banyak digunakan untuk berbagi data pribadi. Laporan tersebut menyatakan bahwa 82% konsumen berbagi informasi melalui situs web resmi, sedangkan 59% lainnya melalui media sosial. Konsumen di Indonesia juga bersedia berbagi data pribadi dengan penyedia layanan keuangan dan kesehatan.
Meskipun konsumen Indonesia sangat terbuka dan nyaman berbagi data, mereka juga mengharapkan merek menjadi lebih transparan.
Baca juga:
NASA memecahkan rekor transfer data dari luar angkasa ke darat
Dibandingkan dengan negara Asia-Pasifik lainnya, konsumen di Indonesia lebih menghargai transparansi. 67% responden di Indonesia mengatakan bahwa mereka mempercayai merek yang jujur dan transparan tentang kebijakan mereka.
Masih kurang dari dua tahun lagi sebelum penggunaan cookie secara resmi dihentikan. Konsumen saat ini memiliki ekspektasi privasi data yang lebih tinggi. Hal ini tidak terlepas dari kesadaran akan berbagai risiko yang terkait dengan pengumpulan dan penyimpanan data dari pihak ketiga.
Dibandingkan dengan negara Asia-Pasifik lainnya, konsumen di Indonesia setidaknya tidak keberatan menerima email dari a tanda setelah mengizinkan penggunaan semua jenis cookie di situs web (52%).
Konsumen di Indonesia juga memiliki tingkat kesadaran yang cukup tinggi terhadap wacana doom cookies. 69% mengetahui rencana Google untuk menghentikan penggunaan cookie pihak ketiga di browser Chrome pada tahun 2024.
Sementara itu, 50% konsumen di Indonesia menilai pembatasan penggunaan data pihak ketiga sebagai perkembangan yang luar biasa karena bagi mereka privasi data pribadi menjadi prioritas. Ini adalah angka tertinggi di Asia-Pasifik.
Dalam hal berbagi data, 87% konsumen di Indonesia merasa nyaman untuk terlibat tanda yang mendapatkan data langsung dari mereka.
Konsumen juga lebih mungkin untuk berbagi informasi jika insentif tersedia. merekseperti imbalan uang, kupon diskon, dan poin loyalitas adalah bentuk insentif yang paling efektif di Indonesia. (dru)
Baca juga:
Bocorkan data internal, Samsung melarang penggunaan AI di perangkat pekerja


