Surat dari Kegelapan: Ketika ‘Molo’ Menjadi Satu-satunya Pilihan
Di atas kertas bergaris itu, sebuah dunia sedang runtuh. Kalimat “Mama molo jao” bukan sekadar deretan kata dalam dialek lokal; itu adalah lonceng perpisahan dari seorang anak yang merasa tak lagi punya tempat untuk bersandar. Di balik goresan tangan yang belum sepenuhnya kokoh, tersimpan beban mental yang seharusnya tak pernah dipikul oleh pundak sekecil itu.
Tragedi ini menjadi cermin retak bagi kita semua. Saat sang anak menuliskan “galo mata mae”—meminta ibunya untuk tidak menangis—ia sebenarnya sedang menunjukkan ironi yang paling pedih: seorang bocah yang sedang meregang nyawa masih berusaha menjaga perasaan orang dewasa di sekitarnya.
Refleksi bagi Kita:
- Kepekaan yang Tumpul: Seringkali kita hanya fokus pada prestasi akademik anak, namun buta terhadap “lebam” di jiwa mereka.
- Kegagalan Sistemik: Surat ini adalah bukti autentik bahwa di sudut-sudut Nusantara, layanan kesehatan mental masih menjadi mitos yang tak terjangkau.
- Tanggung Jawab Kolektif: Berhenti bertanya “mengapa dia melakukannya?”, mulailah bertanya “di mana kita saat dia membutuhkan telinga?”
Sketsa anak menangis di akhir surat itu bukan hanya gambar; itu adalah dakwaan bagi kita semua—orang tua, guru, dan negara—yang terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga lupa bahwa ada anak-anak yang sedang berjuang sendirian dalam sunyi.


