MerahPutih.com – PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG meluncurkan website My Health Risk Score. Situs tersebut merupakan yang pertama di Indonesia yang secara pribadi dapat memprediksi risiko kesehatan dan dapat diakses oleh semua kalangan dengan mudah dan gratis.
Skor Risiko Kesehatan Saya menggunakan algoritme yang menghitung risiko statistik seseorang terhadap berbagai penyakit kritis sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan untuk hidup sehat sejak usia dini.
Baca juga
Acquaree Spa Journey Lively merayakan Sinarmas World Academy ke-15
Chief Executive Officer Sinarmas MSIG Life, Wianto Chen mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen untuk berperan dalam menyediakan produk asuransi jiwa dengan terus berinovasi.
“Dan berusaha meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia agar lebih sehat, sejahtera dan terlindungi dalam mencapai tujuan hidupnya,” kata Wianto di Jakarta Selatan, Kamis (13/4).
Namun, Wianto menyayangkan jaminan sosial masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.
Baca juga
Bambang Susantono dan Pejabat Negeri Sinarmas menjadi pimpinan petinggi-petinggi otoritas IKN
Menurutnya, jaminan sosial warga negara Indonesia bergantung pada kerabat dan juga jaminan dari BPJS.
“Bagaimana kita bisa membuat industri ini maju dan kita juga akan demikian. Menciptakan cakupan positif untuk asuransi sehingga orang tidak takut membayar asuransi. Asuransi membayar Rp200 triliun tahun lalu,” jelasnya.
Dalam catatan Asuransi Jiwa Sinarmas, MSIG hanya mengalokasikan 1,5 persen dari total PDB untuk asuransi. Angka ini jauh tertinggal dari Malaysia yang alokasinya sekitar 3-4 persen. Sementara Jepang memiliki hampir 6% dan bahkan Singapura memiliki 8%, yang merupakan negara kecil.
“Artinya Malaysia penetrasi dari GDP. Malaysia 3 kali lipat (Indonesia), Thailand 2 kali lipat. Dan Singapura 6 kali lipat,” ujarnya.
Jumlah diagnosis penyakit kritis di Indonesia relatif tinggi. Data World Health Organization (WHO) tahun 2019 menunjukkan bahwa penyakit stroke dan jantung iskemik merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia.
“Pola makan dan pola gerak yang kurang baik, diikuti dengan penerapan gaya hidup sedentary dan kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi penyebab utamanya,” pungkasnya. (Asp).
Baca juga
Menjadi Wakil Otoritas IKN, Dhony Rahajoe mengundurkan diri dari semua jabatan di Sinarmas
