Sembunyi di Kardus, King Kobra 3 Meter Gegerkan Warga Pangandaran
PANGANDARAN – Keheningan malam di Dusun Sinargalih, Desa Cibenda, mendadak pecah pada Sabtu malam, 7 Februari 2026. Bukan karena deru mesin atau hiruk-pikuk hajatan, melainkan akibat kehadiran tamu tak diundang: seekor King Kobra (Ophiophagus hannah) sepanjang tiga meter.
Ular berbisa itu pertama kali menampakkan diri di teras rumah Samsudin, seorang warga RT 02/08 Kecamatan Parigi, Pangandaran. Sekitar pukul 18.51 WIB, saat azan Magrib baru saja usai, Samsudin yang hendak mengambil jemuran pakaian dikejutkan oleh gerakan benda hitam pekat di sudut terasnya.
“Awalnya dikira kabel, tapi bergerak. Begitu saya senter, ternyata ular besar sekali,” ujar salah satu saksi di lokasi kejadian.
Jalur Saluran Air
Informasi yang dihimpun dari tim Pemadam Kebakaran Kabupaten Pangandaran menyebutkan, predator puncak ini diduga merayap dari area perkebunan rimbun yang membentang di belakang pemukiman warga.
King Kobra tersebut diperkirakan menyusup melalui saluran air drainase sebelum akhirnya memutuskan untuk “beristirahat” di teras rumah Samsudin.
Situasi sempat memanas ketika ular tersebut mencoba bersembunyi di balik tumpukan kardus kosong. Warga yang panik segera menghubungi unit Damkar untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.
Evakuasi yang Menegangkan
Empat personel tim Damkar Pangandaran tiba di lokasi dengan peralatan tempur lengkap: tongkat penjepit (handle stick) dan karung pengaman.
Proses evakuasi berlangsung alot. King Kobra yang dikenal agresif itu sempat menunjukkan posisi berdiri—ciri khas ancaman mereka—sebelum akhirnya berhasil dipiting oleh petugas.
Kepala Bidang Damkar Pangandaran, Ade Suhendra mengonfirmasi bahwa tidak ada korban luka, baik dari pihak warga maupun petugas, dalam operasi senyap malam itu. “Ular berhasil kami amankan dalam kondisi hidup tanpa cidera,” ujarnya.
Pasca-Evakuasi
Meski ancaman telah berlalu, trauma masih menyelimuti warga Sinargalih. Untuk sementara waktu, King Kobra tersebut diserahkan kepada komunitas pencinta reptil di Kecamatan Parigi.
Para ahli reptil akan memantau kondisi kesehatan ular tersebut sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari pemukiman manusia.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi warga di kawasan pesisir dan agraris Pangandaran untuk lebih waspada terhadap migrasi satwa liar, terutama saat musim hujan ketika kelembapan memancing ular keluar dari sarangnya.
